Siapa yang Layak di Sebut Orang Reformed

September 11, 2010 at 9:54 am (Doktrin)

Dalam suatu kesempatan, terjadilah diskusi di antara para hamba-hamba Tuhan dalam suatu prayer meeting. Kemudian salah seorang dari hamba Tuhan tersebut menunjuk salah seorang rekannya seraya berkata, “Dia itu tidak sealirad dengan kita. Dia itu orang reformed!”

Mengapa mereka memberi label demikian? Apakah sesungguhnya yang menjadi ciri khas Orang Reformed?

Teman-teman boleh menyampaikan opini berkaitan dengan topik di atas.

Permalink Leave a Comment

Anger Management

October 1, 2009 at 6:19 am (Artikel)

Oleh: Ps. Simon Supriadi

Thomas Hobbes dilahirkan pada 5 April 1588 di Malmesbury, Wiltshire, Inggris. Hobbes merupakan tokoh penting dalam perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan, dan ilmu politik modern. Salah satu karya Hobbes adalah Leviathan (1651). Teori yang paling kita ingat dari tokoh ini adalah Teori Homo HominiLupus(Manusia bisa jadi serigala bagi sesamanya). Hobbes memunculkan teori ini karena:

  • Secara alamiah manusia punya naluri kekerasan. Menurutnya kekerasan terjadi karena tidak tersalurnya naluriah (harapan, keinginan atau kehendak) yang berlebihan itu.
  • Manusia pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, segala tindakan manusia mengarah pada pemupukan kekuasaan dan hak milik sehingga akan menjurus pada perang antara semua lawan semua.
  • Untuk mempertahankan kelangsungan hidup – yang didasarkan pada rasa takut terhadap kematian yang kejam — adalah satu-satunya klaim moral yang dapat dibenarkan.

Teori ini tercetus karena Hobes melihat realitas yang terjadi di dalam masyarakat waktu itu. Di masanya ia melihat adanya kesewenang-wenangan terhadap golongan yang lemah, sehingga perlu adanya peran negara untuk mencegah ini. Ia melihat masyarakat di masanya sungguh-sungguh persis seperti binatang, karena mereka saling memakan. Mereka tidak lagi memegang nilai-nilai seperti kejujuran dan kebenaran serta keadilan dan kepedulian pada eksistensi orang lain.

Namun dari kisah penciptaan Adam dan Hawa, dapatlah kita pahami bahwa manusia selalu membutuhkan manusia lainnya untuk menunjang kehidupannya. Naluri manusia untuk selalu hidup dan berhubungana dengan orang lain disebut “gregariousness” dan oleh karena itu manusia disebut mahluk sosial. Sebagai mahluk social yang selalu berinteraksi dengan sesamanya, maka konflik adalah sesuatu yang mungkin terjadi.

Konflik merupakan sebuah fakta alami dari realitas kehidupan manusia.[1] Konflik biasanya terjadi ketika pihak-pihak yang sedang berkonflik tersebut memegang cara pandang, nilai dan tujuan yang berbeda satu dengan yang lainnya.[2] Interes dan kepentingan yang berlainan tersebutlah yang sering kali membangkitkan system kerja emosi menjadi lebih tinggi.[3] Dampak langsung dari system kerja emosi yang meninggi adalah timbulnya kemarahan yang berujung pada sebuah pertengkaran.

Ketika terjadi konflik/pertengkaran sering kali focus dan perhatian kitapun menjadi berubah. Fokus kita berubah kepada memberi response terhadap rasa sakit dan bagaimana me manage kemarahan tersebut.[4] Dengan demikian kita semakin menyadari betapa pentingnya mengerti, mengenali dan mengendalikan system kerja emosi kita. Clore berpendapat bahwa:

“That emotions have important social functions and consequences, in that they influence not only the behavior of the people who experience them but also the behavior of those who perceive them. Emotions function as communications to both oneself/ bahwa emosi mempunya fungsi dan konsekuensi social yang sangat penting, dimana ia bukan hanya mempengaruhi tingkahlaku dari orang yang mengalaminya namun juga mereka yang menerimanya/menjadi obyeknya. Fungsi emosi seperti sebuah komunikasi diantara kedua orang tersebut.”[5]

Marah merupakan sesuatu yang normal, umum dan seringkali menyehatkan. Alkitab juga menyaksikan bahwa tokoh-tokoh hebatpun pernah melakuakan hal ini, bahkan Tuhanpun bisa marah. Misalnya:

  • Kel. 4:14 “Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ ada Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tau, bahwa ia pandai bicara …” Tuhan marah karena Musa terlalu banyak alas an di hadapan-Nya. Tuhan tidak meminta ability mu tetapi availability mu.
  • 2 Raja-Raja 5:11 “Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia dating ke luar dan berdiri memanggil nama Tuhan, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!” Naaman marah karena formula yang digunakan Elisa tidak seperti yang diharapkannya.
  • Mat. 21:12-17 Tuhan Yesus ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Tuhan Yesus marah oleh karena Bait Allah telah menjadi perkumpulan Mafia berbaju pendeta.

Maka, melalui sebuah kemarahan kita dapat mengetahui apa yang sesungguhnya menjadi basic values/ basic instinct dari orang tersebut. Ekspresi kemarahan sering kali menjadi signals ada beberapa standard hidup, standar perilaku telah dirusak atau dilanggar.[6] Sekalipun marah adalah sesuatu yang normal namun akan berubah menjadi masalah ketika kemarahan tersebut telah berubah menjadi sesuatu yang merugikan dan menyakiti orang lain.

Nature of Anger

Menurut  Charles Spielberger, PhD, seorang psikolog yang khusus menanganan anger managemen, ia memahami kemarahan sebagai suatu tahapan emosi yang mempunyai intensitas berbeda-beda dari ringan hingga berat. Kemarahan ini berdampak pada perubahan psikologis dan biologis.

Ketika kita menjadi marah, maka detak jantung dan tekanan darah menjadi meningkat, begitu pula dengan level energy hormonal, adrenaline dan noradrenalin kita (Adrenalin dan noradrenalin adalah sistem pertahanan tubuh yang pertama muncul setiap kali terjadi stres mendadak – fight-or-flight). Kemarahan juga dapat menyebabkan terjadinya dua peristiwa sekaligus: peristiwa eksternal dan internal. Kita bisa marah terhadap orang namun juga terhadap sebuah kegiatan/peristiwa. Kemarahan juga dapat dipicu oleh kegelisahan, booring terhadap masalah-masalah pribadi.

Expressing Anger

Secara instinct, cara alamiah dalam mengekspresikan kemarahan adalah berresponse secara aggressive. Spielberger[7] berbendapat ada dua model dalam mengelola kemarahan/ anger management yakni anger-in (inhibition of anger expression) dan anger-out (direct physical or verbal expression). American Psychologist Association[8] menjabarkan dua bentuk ini dalam tiga cara pengekspresian kemarahan. Cara tersebut antara lain:

  1. Expressing – mengekspresikan kemarahan dengan cara assertive yakni dengan cara yang penuh respek baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Untuk dapat melakukan hal ini kita membutuhkan pemahaman yang menyeluruh tentang apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan kita, bagaimana mempertemukan dengan kebutuhan orang lain tanpa harus melukai atau menyakitinya.
  2. Suppressing – hal ini dapat terjadi ketika kita mengendalikan kemarahan, berhenti memikirnya dan menganti focus pikiran kita kepada hal-hal yang positive. Dengan demikian kita bisa mengubah perilaku yang tidak mengenakkan menjadi perilaku yang menyenangkan. Namun, cara ini juga mempunyai kelemahan, karena apa bila kita tidak mampu menanggulanginya, maka kemarahan tersebut akan menyerang ke dalam yakni menyerang diri kita sendiri. Kita menjadi orang yang sensitive, mudah tersinggung, pesimis dan unpredictable.
  3. Calming – Calming bukan berarti hanya mengontrol perilaku lahiriah kita/ outward tetapi juga mengontrol responses internal kita, berusaha menenangkan gejolak hati, menenangkan pikiran hingga mampu berpikir secara jernih dan obyektif.

Strategies To Keep Anger at Bay

1. Relaxation – 1 Sam. 16:23 “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.”

Cara relaxation yang sederhana seperti misalnya:

  • Mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan segera, itu akan sangat menolong menenangkan rasa marah yang ada.
  • Mendengarkan musik kesukaan dan meneduhkan.
  • Sambil melakukan senam pernafasan juga melakukan self talk “relax,” “tenang man,” “bukan sebuah masalah”

2. Cognitive Restructuring – secara sederhana adalah dengan mengubah cara berpikir kita.

Seringkali ketika marah kita mengeluarkan kata-kata umpatan dan makian yang tidak karuan. Ketika kita marah, sesungguhnya system kerja otak kita menjadi sangat dramatis. Oleh karena itu kita perlu melakukan yang namanya cognitive restructuring seperti yang dilakukan oleh Gamaliel ketika menyikapi ketidak sukaan orang-orang Farisi terhadap pelayanan yang dilakukan oleh para rasul dalam KPR 5:26-42.

“Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan pernuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap …”

3. Problem Solving

Adakalanya, yang menjadi sumber kemarahan dan frustasi kita adalah karena masalah-masalah yang tidak kunjung selesai di dalam hidup kita. Jalan satu-satunya adalah segera melakukan tindakan tegas! Seperti halnya dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus ketika menyikapi Mafia Bait Allah. Masalahnya adalah tidak jarang kadang kita suka menikmati masalah tersebut.

Cara lainnya adalah dengan membuat sebuah perencanaan dan melakukan evaluasi secara berkala.

4. Better Communication

Kemarahan juga sering kali disebabkan karena kecenderungan kita untuk jump to conclusions, dan seringkali kesimpulan yang kita buat tersebut tidak akurat.

Satu hal yang perlu kita lakukan ketika berada di tengah-tengah diskusi yang panas adalah slow down and think your responses. Slow down and think carefully tentang apa yang hendak kita katakana.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk “Hai saudara-saudaraku yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” Yak. 1:19

Kita perlu belajar mendengar (empathy listening) apa yang sesungguhnya menjadi penyebab kemarahan tersebut.

5. Changing Your Environment

Lingkungan juga dapat menjadi penyebab timbulnya kemarahan dan irritasi emosi kita. Bahkan orang-orang yang ada di sekitar kitapun bisa menjadi beban, menambah masalah dan sumber permasalahan tersebut.

Hal serupa juga di alami oleh Ayub ketika di kelilingi oleh ketiga orang sahabatnya ia berkata “Hal seperti ini telah acap kali kudengar, penghibur sialan kamu semua!” (Ayub 16:2)

Itulah sebabnya, untuk mengurangi intensitas kerja emosi kita, maka mengubah lingkungan itu sangat penting. Mengubah tempat kita kerja, dengan siapa kita bergaul dan bagaimana kita berinteraksi.

“When anger rises, think of the consequences”

Confucius

Referensi:

Jehn, K. A.  (1997) Affective and cognitive conflict in work groups: Increasing performance

through value-based intragroup conflict. In C. K. W. De Dreu & E. Van de Vilert (Eds.),

Using conflict in organizations. Thousand Oaks, CA: Sage. 87-100

Barry, B.  (1999) The tactical use emotion in negotiation. Research on Negotiation in

Organizations, 7,93-121)

Allred, K. G. (1999) Anger and retaliation: Toward an understanding of impassioned conflict in

organization. Research on Negotiation in Organizations, 7. 27-58)

Burn, J. W., Johnson, B. J., Devine, J., Mahoney, N & Pawl, R. (1998). Anger management style

and prediction of treatment outcome among male and female chronic pain patients.

Behavior Research and Therapy, 36, 1051-1062

Schwarz, N., & Clore, G. L. (1983). Mood, misattribution, and judgments of well-being:

informative and directive functions of affective states. Journal of Personality and

Social Psychology, 45, 513-523

Averull, J. R. (1982). Anger and aggression. New York: Springer-Verlag.

Spielberger, C. D., Johnson, E. H., Russell, S. F., Crane, R. J., Jacobs, G. A., & Worden, T. J.

(1985). The experience and expression of anger:  Construction and validation of an anger expression scale. In M. A. Chesney & R. H. Rosenman (Eds.), Anger and hostility in cardiovascular and behavioral disorder. (pp. 5-30). Washington, DC: Hemisphere.

http://www.apa.org


[1] Jehn, K. A.  (1997) Affective and cognitive conflict in work groups: Increasing performance through value-based intragroup conflict. In C. K. W. De Dreu & E. Van de Vilert (Eds.), Using conflict in organizations. Thousand Oaks, CA: Sage. 87-100

[2] Barry, B.  (1999) The tactical use emotion in negotiation. Research on Negotiation in Organizations, 7,93-121)

[3] Allred, K. G. (1999) Anger and retaliation: Toward an understanding of impassioned conflict in organization. Research on Negotiation in Organizations, 7. 27-58)

[4] Burn, J. W., Johnson, B. J., Devine, J., Mahoney, N & Pawl, R. (1998). Anger management style and prediction of treatment outcome among male and female chronic pain patients. Behavior Research and Therapy, 36, 1051-1062

[5] Schwarz, N., & Clore, G. L. (1983). Mood, misattribution, and judgments of well-being: informative and directive functions of affective states. Journal of Personality and Social Psychology, 45, 513-523

[6] Averull, J. R. (1982). Anger and aggression. New York: Springer-Verlag.

[7] Spielberger, C. D., Johnson, E. H., Russell, S. F., Crane, R. J., Jacobs, G. A., & Worden, T. J. (1985). The experience and expression of anger:  Construction and validation of an anger expression scale. In M. A. Chesney & R. H. Rosenman (Eds.), Anger and hostility in cardiovascular and behavioral disorder. (pp. 5-30). Washington, DC: Hemisphere.

[8]http://www.apa.org

Permalink Leave a Comment

Katekisasi: Pergumulan dan Tantangan Gereja Masa Kini

June 19, 2009 at 8:30 am (Artikel)

Oleh: Ev. Otniol H. Seba

Dewasa ini tidak banyak jemaat Kristen yang mengenal dan mengetahui dengan pasti apa itu katekisasi? Setidaknya ketidaktahuan dan kurangnya pengenalan jemaat terhadap katekisasi, nampak dari beberapa jawaban yang mereka ungkapkan, misalnya: ”katekisasi adalah syarat untuk memperoleh surat dibaptis atau disidi”; ”syarat sebelum menikah sudah harus katekisasi”; katekisasi adalah pengajaran tradisi yang diharuskan di dalam gereja (maksudnya gereja-gereja Injili)(01), lebih dari itu ada jemaat (bahkan majelis gereja) yang tidak mengerti apa itu katekisasi.
Hal ini secara tidak langsung berdampak pada 2 segi, yaitu: pertama, kualitas rohani dari jemaat yang bersangkutan. Maksudnya bahwa katekisasi tidak lebih hanya menjadi sarana untuk mendapatkan ”legalisasi” (atau surat-surat yang berkaitan dengan kepentingan jemaat) dari gereja. Masalah kerohanian tidak diutamakan. Apalagi dengan waktu yang singkat, hadir atau tidak hadir, jemaat tetap disidi atau dibaptis. Untuk jangka yang panjang sudah dapat dipastikan bahwa jemaat-jemaat akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan. Kedua, kualitas pelayanan itu sendiri. Maksudnya jemaat yang telah mengikuti katekisasi tidak melayani. Hal ini disebabkan oleh konsep bahwa katekisasi adalah pra-syarat untuk menikah dan hanya sekadar untuk mendapatkan surat baptis atau sidi yang dapat digunakan untuk kepentingannya. Akibatnya adalah: (1) kesulitan mencari generasi untuk melayani di gereja; (2) kemungkinan bahwa gereja dilayani oleh orang-orang yang ”tidak siap secara rohani.” Jika ini terjadi, maka lambat laun gereja akan mengalami ”pengeroposan” baik secara rohani maupun di dalam pelayanannya.
Oleh karena itu gereja perlu memberikan pemahaman yang jelas kepada jemaat tentang mengapa katekisasi itu perlu dilakukan? Juga memberikan dorongan kepada jemaat untuk mengikuti kelas katekisasi.

MEMAHAMI PENTINGNYA KATEKISASI
Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan bergereja mengalami tantangan yang besar. Tantangan itu datang dari dalam dan dari luar gereja. Salah satu tantangan dari dalam gereja adalah kurangnya minat dari jemaat terhadap pengajaran Alkitab (doktrin-doktrin Alkitabiah yang dapat dipertanggungjawabkan). Jemaat lebih menyukai ajaran-ajaran yang bersifat aplikatif dan berbau ”supranatural.” Ini menyebabkan jemaat tidak punya kepekaan terhadap berbagai ajaran yang kelihatannya ”baik”, ”dapat diterima dengan akal (logis)”, dan ”menyentuh kehidupan jemaat”, padahal yang sebetulnya menuju kepada kesesatan. Ajaran-ajaran tersebut tidak dapat dibedakan dengan jelas oleh jemaat-jemaat kristen masa kini.
Pada sisi yang lain, gereja diserang oleh ajaran-ajaran yang berasal dari kaum intelek, yang mengandalkan rasio dan pengetahuan modern sebagai justifikasi terhadap kebenaran Alkitab. Kritik terhadap kekristenan terus-menerus dilancarkan. Kebenaran Alkitabiah berusaha diganti dengan kebenaran manusia. Injil Kristus diganti dengan ajaran-ajaran manusia yang mengandalkan intelektual semata-mata. Jika gereja tidak memberikan fondasi yang kuat kepada jemaat tentang kebenaran Alkitabiah yang disertai dengan eksegese dan eksposisi yang akurat terhadap teks Alkitab, maka dapat dipastikan bahwa jemaat yang dihasilkan adalah jemaat yang ”rapuh” dan ”keropos” imannya.
Katekisasi(02), adalah salah satu wadah, di mana gereja mempersiapkan jemaat untuk memiliki pemahaman yang benar tentang kebenaran Alkitab. Klauber mengutip John Leight sejarahwan reformasi menuliskan: Katekisasi tidak hanya semata-mata mempersiapkan orang muda untuk pembaptisan, tapi kepada semua orang percaya, untuk mengajar mereka dasar-dasar iman Kristen.(03) Di dalam ketekisasi ini, jemaat diperlengkapi dengan doktrin-doktrin dasar di dalam kekristenan yang dipercayai dan diimani oleh gereja tersebut. Selain itu katekisasi merupakan wadah untuk mencari generasi-generasi baru yang dapat diarahkan dan dipersiapkan untuk melayani Tuhan di dalam pelayanan gerejawi.
Pentingnya pengajaran ketekisasi oleh gereja kepada jemaat lebih disebabkan karena: pertama, gereja harus melaksanakan Amanat agung Yesus Kristus untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-Nya (bnd. Mat. 28:19) proses pengajaran; kedua, bahwa gereja harus mengajarkan kebenaran-Nya kepada jemaat, sama seperti Yesus Kristus yang mengajarkan firman dan kebenaran-Nya (bnd. Yoh. 8:31-32); ketiga, gereja harus menuntun jemaat kepada iman dan pengenalan Allah yang benar dan Yesus Kristus (bnd. Yoh. 17:3 ; Rm. 10:17).
Namun sayangnya gereja tidak serius untuk memikirkan katekisasi ini. Para rohaniwan hanya sekadar menghimbau jemaat untuk ikut katekisasi, tanpa mendorongnya dengan serius dan sungguh-sungguh. Mereka yang aktif melayani umumnya hanya sekadar tahu pengajaran katekisasi ini, tanpa mendalami isinya (doktrin-doktrin Alkitabiah yang diajarkan dalam ketekisasi). Ini menyedihkan sekali!

MEMAHAMI KATEKISASI DI DALAM ALKITAB
Alkitab, baik PL dan PB memberikan latar belakang mengenai pengajaran katekisasi. Baik itu di dalam tradisi Yahudi yang ketat sebagai-mana yang tercatat di dalam PL, maupun di dalam kekristenan mula-mula yang berakar kuat di dalam PB. Hal ini perlu dilihat secara komprehensif di dalam Alkitab, mengingat kekristenan hari ini sangat berakar kuat di dalam kedua tradisi tersebut.
A. Dalam Perjanjian Lama (PL)
Katekisasi berakar kuat dalam sejarah dan tradisi dari bangsa Israel. Hal ini dapat kita lihat dalam beberapa hal berikut:
1. Orang tua berkewajiban mengajar anak-anaknya “tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar.” (Ul. 6:20-25; Mzm. 78:1-7, dsb).
2. Sekitar abad-abad pertama telah ada sekolah bagi anak-anak Yahudi, mereka yang berumur 5-7 tahun telah mendapat pengajaran dari guru-guru torah. Maksud dan tujuan pengajaran itu adalah supaya anak-anak mendapat pengajaran tentang torah.
3. Pengetahuan ini terdiri dari pembacaan dan pelafalan torah secara harafiah. Ada 2 tingkatkan yang dapat kita temukan dalam pengajaran ini. a) tingkat dasar yang dikenal dengan nama = beth-ha-sefer dan b) tingkat lanjutan yang dikenal dengan beth-ha-midrasy. Pengajaran semacam ini terus berlangsung dalam abad-abad pertama di kalangan umat Yahudi.
4. Bahan-bahan pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru Yahudi di dalam sinagoge-sinagoge dibagi di dalam beberapa bagian: pertama, pengakuan iman (syema). Hal ini tercatat di dalam Ul. 6:4-9, 11, 13-21 dan Bil. 15:37-41; kedua, doa utama (= syemone Esre), ini dilakukan oleh tiap orang Yahudi, tiga kali sehari. Doa ini adalah suatu puji-pujian kepada Allah; ketiga, pembacaan torah; keempat, pengajaran tentang arti dari hari raya-hari raya Yahudi. (04)
B. Dalam Perjanjian Baru (PB)
Jemaat purba (orang-orang Kristen zaman purba) mengadopsi jenis pengajaran ini untuk menunjang pelayanan mereka. Mereka menggunakan beberapa istilah untuk menunjukkan hal ini.
1. Katekhein = memberitakan, memberitahukan, mengajar dan memberi pengajaran (Luk. 1:24; Kis. 21:21, 24; Rm.2:17-18)
2. Didaskhein = menyampaikan pengetahuan dengan maksud su-paya orang yang diajar itu bertindak terampil (Mat. 4:23; 26:25; 1Tim. 4:11, dst).
3. Ginoskein = mengenal atau belajar mengenal. Ini bersifat intelek-tualistis (Rm. 1:21, 28; Gal. 4:8-9, dst).
4. Manthanein = belajar, maksudnya mengindikasikan suatu proses rohani, di mana seseorang mencapai sesuatu bagi dirinya untuk perkembangan kepribadiannya (Ibr. 5:7-8; Ef. 4:20-23, dst).
5. Paideuein = memberi bimbingan kepada anak-anak, supaya mereka dalam dunia orang dewasa dapat menempati tempat mereka (1Tim. 3:16-17; Tit. 2:17, dst).
6. Katekisasi di dalam Alkitab PL dan PB memberikan penjelasan secara garis besar, melalui tradisi Israel dan arti kata-kata yang berhubungan dengan ketekisasi jemaat. Ini menunjukkan bahwa memang tujuan akhir katekese itu sendiri berhubungan dengan kerohanian jemaat itu sendiri dan pelayanan gereja yang nantinya akan dilakukan oleh jemaat tersebut.(05)

MEMAHAMI SECARA SINGKAT KATEKISASI DI DALAM GEREJA
Katekisasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari gereja. Pelayanan ini menjadi penting oleh karena mengajarkan kebenaran fundamental tentang iman Kristen. Abineno mengungkapkan bahwa: katekese bukanlah hanya pelayanan sampingan saja dari gereja: sama seperti pelayanan-pelayanan gerejawi yang lain, demikian pula katekese adalah pelayanan pokok adalah fungsi dasariah dari gereja.(06)
Di dalam perkembangan sejarahnya, katekisasi mengalami perkembangan bersamaan dengan gereja. Di mana gereja berdiri, pelayanan katekisasi juga dilakukan. Ada dugaan dari beberapa pakar sejarah bahwa ketekisasi menjadi permulaan dari berdirinya gereja. Hal ini menunjuk kepada peristiwa di dalam Kis. 2:42a: “mereka bertekun dalam pengajaran para rasul.” Terlepas dari pernyataan ini diterima atau tidak, namun satu hal yang pasti bahwa katekisasi dan gereja tumbuh dan berkembang hampir bersamaan.
Di dalam gereja mula-mula, pelayanan katekisasi ini telah dilakukan. Hal ini nampak terlihat di dalam tulisan Klemens (sekitar 140 AD). Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Klemens menyebutkan bahwa katekese sebagai permintaan jemaat. Pengajaran ini bertujuan untuk mengajak orang supaya mengenal Kristus dan menyucikan mereka dari segala berhala. Tertullianus (sekitar 200 AD) menegaskan bahwa sebelum orang-orang mengalami baptisan, mereka terlebih dahulu harus menerima pengajaran. Constitutiones Apostolocae sudah menetapkan pendidikan selama tiga tahun untuk setiap orang yang ingin dibaptis. Augustinus, seorang bapa gereja barat telah menerima pengajaran sebelum baptisan selama dua tahun pada usia 31 tahun, sebelum ia diterima menjadi anggota jemaat dan dibaptis tahun 387 AD.(07) Pelayanan katekisasi gerejawi semacam ini terus bertahan selama 500 tahun pertama berdirinya gereja.
Memasuki abad-abad pertengahan, katekisasi mengalami kemerosotan tajam. Hal ini lebih dikarenakan masuknya berbagai ajaran di dalam gereja yang menekankan ritualitas dari pada pengajaran. Salah satu contohnya adalah ajaran sakramen pengampunan dosa, yang secara serius ditekankan oleh gereja. Di sini yang ditekankan adalah ritualnya. Sementara itu di dalam suatu konsili Forli yang dilakukan pada tahun 791, menganggap kredo dan Doa Bapa kami sebagai formula pemberi berkat. Jika ada orang yang mampu mengucapkannya, maka dianggap sudah cukup. Hal ini secara tidak langsung menggeser kedudukan pengajaran di dalam gereja Tuhan. Pada masa ini katekisasi hanya berlaku di dalam keluarga dan melalui khotbah-khotbah yang terbatas. Pada masa ini bukan saja kemerosotan pengajaran yang terjadi, tetapi jemaat-jemaat tidak mengerti apa yang mereka ucapkan di dalam ritual-ritual gereja yang serba membingungkan.(08)
Mengakhiri abad pertengahan, muncul gerakan-gerakan reformasi yang menurut Gereja Katolik-Roma, sebagai gerakan kemurtadan, yang memperjuangkan kembali pengajaran di dalam gereja. Mereka tidak mau tertipu oleh gereja yang hanya melaksanakan ritual semata-mata. Mereka berusaha untuk menyusun buku-buku yang dapat menjadi pedoman untuk pengajaran bagi jemaat. Katakan saja John Wycliffe dan John Huss. John Wycliffe hidup di Inggris sekitar tahun 1384 menulis bukunya Pauper Rusticus dalam bahasa Inggris. Isinya mengenai iman, titah, dan doa, dengan penjelasan panjang lebar tentang kehidupan yang berdasarkan iman dan pergumulan iman. Selanjutnya John Huss sekitar tahun 1415, menulis buku penjelasan mengenai Apostolik, Doa Bapa Kami dan Dasa Titah, agar para muridnya tahu bagaimana mengajarkan iman Kristiani kepada rakyat.
Pembaruan yang dilakukan pada masa reformasi telah membawa perubahan yang besar terhadap perkembangan katekisasi. Katekisasi tidak hanya bersifat hafalan, seperti dasa titah, doa dan sakramen sebagaimana yang dilakukan oleh ”gereja lama” (= zaman Katolik-Roma), melainkan juga ringkasan ajaran Kitab Suci yang sangat baik dan berguna yang kemudian diajarkan kepada jemaat-jemaat Kristen. Masa Reformasi telah melahirkan berbagai macam katekismus pengajaran yang berakar kuat kepada firman Tuhan. Martin Luther pada tahun 1529 menuliskan Katekismus Besar dan Katekismus Kecil sebagai panduan untuk pengajaran kepada para pengikutnya. Di dalam buku ini, ia menguraikan prinsip-prinsip penting ajaran reformasi yang berakar kuat kepada kebenaran Alkitab: Sola Scriptura, Sola Fide dan Sola Gratia.(09) Johanes Calvin, merupakan tokoh reformasi yang sangat disegani dan telah mewariskan pengajaran yang dalam sekali tentang Alkitab. Oleh pengikutnya, namanya menjadi rujukan dari seluruh ajarannya: ”Calvinis.” Pada tahun 1536, ia menuliskan suatu buku ”De Institutionae Christi” yang merupakan bahan pelajaran yang digunakan di dalam katekisasi. Calvin kemudian mengarang sebuah ”Katekismus” pada tahun 1541 yang lazim dikenal sebagai ”Katekismus Geneva”. Melanchthon juga menuliskan sebuah katekismus yang sesuai dengan apa yang Martin Luther tuliskan.
Pada tahun berikutnya muncullah beberapa katekismus yang merupakan bahan pengajaran bagi jemaat-jemaat, di antaranya: Katekismus Heidelberg dan Katekismus Westminster. Katekismus Heidelberg ditulis oleh Kaspar Olevianus dan Zakharias Ursinus pada tahun 1562. Katekismus ini sangat terkenal dan menjadi bahan pelajaran yang disenangi dan diterima oleh jemaat-jemaat pada waktu itu. Kedua katekismus merupakan kristalisasi dari pengajaran iman kristen di dalam tradisi Calvinisme.
Memasuki masa abad ke-18, pengajaran katekisasi mengalami kemorosotan tajam. Hal ini karena ada pengaruh filsafat rasionalisme sekuler yang mulai merasuki gereja. Filsafat ini mempertentangkan antara iman dari akal dan memisahkan antara iman dan akal. Argumentasi-argumentasi yang dibangun dan dilontarkan kepada pihak gereja justru melemahkan kaum rohaniawan yang ada. Pikiran yang skeptis terhadap pengajaran Alkitab (cenderung menolak kebenaran) membawa dampak yang cukup besar bagi kerohanian jemaat Kristen, di mana mereka mulai mengingkari akan kebenaran sebagaimana yang diyakini semula. Rasionalisme semacam ini pada akhirnya mengantarkan jemaat yang ”tereliminasi” dan ”terkontaminasi” karena pengaruhnya ke jurang humanisme yang akhirnya bermuara kepada sikap ateis (lebih tepatnya disebut sebagai Ateis praktis hidup seakan-akan Allah tidak ada).
Pengaruh dari gerakan ini sangat terasa hingga hari ini. Di satu sisi gereja kurang menekankan pelayanan pengajaran katekisasi ini bagi jemaat. Sementara di sisi yang lain, ada upaya yang telah dilakukan oleh orang-orang dan kelompok tertentu untuk menggantikan kebenaran-kebenaran Alkitab dengan dongeng-dongeng yang diciptakan, baik melalui media cetak, seperti buku-buku ataupun melalui film-film. Salah satu contohnya adalah (yang sedang hangat dibicarakan) “The Da Vinci Code.” Hal ini menjadi ”PR” bagi gereja untuk diselesaikan.

MEMAHAMI PERGUMULAN DAN TANTANGAN KATEKISASI MASA KINI
Di dalam era postmodern ini, umumnya masyarakat, termasuk juga jemaat kristen tidak lagi menyukai hal-hal yang bersifat pengajaran doktrinal/alkitabiah. Mereka lebih menyukai pengajaran-pengajaran praktis dan berbau supranatural. Situasi dan kondisi zaman ini telah merubah paradigma kekristenan (Kebenaran merupakan suatu pewahyuan dan diberikan kepada gereja) dengan paradigma baru yang bersifat relatif (kebenaran bergantung kepada setiap pribadi dan kelompok masyarakat). Katekisasi dalam gereja hanya merupakan pra-syarat untuk mendapatkan surat legal (surat baptisan atau sidi) untuk kepentingan pribadi dan bukan bertujuan untuk mempersiapkan dan membimbing generasi muda untuk melayani di dalam gereja.(10)
Sebagai sebuah refleksi: Umumnya dalam setahun gereja-gereja Kristen membuka 2 kali kelas katekisasi.(11) Berapa banyak jemaat yang setiap tahun ikut katekisasi (baik baptisan atau sidi) yang aktif bergereja? Berapa banyak jemaat setelah mengikuti kelas katekisasi, berkomitmen untuk mengikuti pembinaan-pembinaan yang diadakan di gereja? Berapa banyak jemaat setelah mengikuti kelas katekisasi berkomitmen untuk melayani Tuhan? Jikalau semuanya ini berjalan dengan baik, maka: pertama, gereja tidak akan mengalami ”krisis” untuk mencari generasi muda dalam melanjutkan estafet pelayanan gerejawi; kedua, kerohanian jemaat tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ”angin” pengajaran yang menyimpang dari Alkitab. Namun faktanya tidaklah demikian.
Pada masa kini gereja mengalami ujian berat untuk dapat mempertahankan jemaat dengan pengajaran yang murni dan alkitabiah ataukah membiarkan jemaat ”ikut arus” dunia ini dengan segala pengajarannya yang menuju kepada pemuasan hati dan pelampiasan emosi sesaat yang ditampilkan dengan berbagai model gaya hidup yang pada akhirnya membuat mereka kehilangan iman dan pengharapannya. Para rohaniawan ditantang untuk ikut berlomba ”menyelamatkan”(12) (membawa kembali) jemaat-jemaat yang terhilang akibat pengaruh ”arus” zaman ini. Mereka harus dibawa kembali kepada Yesus Kristus sang pemilik jiwanya. Inilah tugas yang dipercayakan oleh Dia, Yesus Kristus kepada para hamba-hamba-Nya.
Gereja harus dapat mengajarkan kebenaran-kebenaran dasar iman Kristen secara tepat dan benar kepada jemaat. Gereja dapat menggunakan berbagai metode dan bahasa yang lebih sederhana untuk mengajar jemaat dengan benar, tanpa merubah isi pengajaran doktrinalnya. Tujuan akhir daripada pengajaran ini adalah memahami iman kristen secara benar.

KESIMPULAN
Gereja yang sehat dan dinamis adalah gereja yang memperhatikan aspek pengajarannya. Hal ini tidak berarti membiarkan pelayanan yang lain (maksudnya adalah keseimbangan pelayanan-pelayanan yang lain dengan pelayanan pengajaran). Pengajaran Alkitab yang benar menjadi fondasi yang kuat bagi pelayanan gereja dan pertumbuhan kerohanian jemaat. Jemaat harus di dorong untuk mengikuti kelas-kelas katekisasi dan pembinaan-pembinaan lainnya. Jemaat yang terlibat pelayanan harus mengerti dasar-dasar kehidupan iman yang benar melalui pengajaran katekisasi atau kelas-kelas pembinaan, tujuannya agar (1) pelayanannya murni hanya kepada Tuhan (dengan kata lain tidak ikut-ikutan); (2) ia bertumbuh di dalam iman; (3) ia tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai pengajaran duniawi yang menyesatkan; (4) mampu memberi jawaban bagi mereka yang meminta pertanggungan jawab imannya sesuai dengan kebenaran di dalam Kristus.
James Montgomory Boice menuliskan: tidak peduli seberapa dahsyat pengalaman kita, tidak peduli seberapa dalam kita paham tentang Allah, yang pasti adalah kita tidak dapat memahami apa yang Allah telah katakan, kecuali melalui wahyu yang didasarkan kepada Alkitab.(13) Biarlah kebenaran ini menjadi pendorong semangat bagi setiap hamba-hamba-Nya yang terpanggil untuk melayani Dia, Sang Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus. •

Footnotes
01/ Gereja-gereja yang melakukan pelayanan katekisasi adalah gereja-gereja yang tergabung di dalam arus utama tradisi Protestan, seperti dari aliran Lutheran dan Calvinis / gereja Reformasi. Sedangkan gereja-gereja aliran baru, seperti gerakan Pentakosta dan Karismatik tidak mengenal katekisasi.
02/ Definisi katekisasi dirumuskan sebagai berikut: A Catechisms is a popular manual of instruction (Gr. Katecheo, to instruct) in Christian beliefs, normally in question and answer form. Dikutip dari: Walter A. Elwell, (Edit.), Evangelical Dictionary of Theology. Second edition, Michigan: Baker Academics, 2001. p. 211.
03/ Martin I Klauber, Confessions, Creeds, and Catechisms in Swiss Reformed Theology (1675-1734), In Westminster Theological Journal, Vol. 57:2 (Fall:1995), p. 403. to quote John Leight, writes: It [catechism] was not initially used solely for the young person preparing for confirmation, but for all believers in order to teach them the basics of the Christian faith.
04/ DR. J.L. CH. Abineno, Sekitar Katekese Gerejawi: Pedoman Guru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), hal. 1-4.
05/ Abineno, Sekitar katekese, hal. 22, menjelaskan demikian: Dari uraian di atas, nyata bahwa yang paling penting dalam katekese ini ialah: membimbing anggota-anggota jemaat khususnya anggota-anggota jemaat yang masih muda ke dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Allah, seperti yang kita baca dalam PL dan PB. Maksudnya ialah supaya mereka belajar untuk hidup bersama-sama dengan Allah ini di bawah pimpinan Roh Kudus dan di dalam persekutuan Yesus Kristus, Anak-Nya. Dengan jalan demikian mereka sebagai anggota-anggota dari Gereja Tuhan dipersiapkan (=diperlengkapi) untuk tugas kesaksian dan pelayanan mereka di dalam dunia.
06/ Ibid, hal. 85.
07/ G. Riemer, Pedoman Ilmu katekese: Ajarlah Mereka, (Jakarta: Yayasan Bina Kasih / OMF, 1998), 43-44.
08/ Ibid, hal. 53-55.
09/ Sola Scriptura berarti hanya Alkitablah satu-satunya sumber pengajaran moral; Sola Fide berarti hanya oleh imanlah manusia dapat diselamatkan; Sola Gratia berarti hanya oleh anugerah Tuhanlah manusia dimungkinkan untuk selamat.
10/ Arguably, many churches have failed to do a creditable job of educating their children, young people and adults in basic Christianity. Hand in hand with the study of scripture, a catechism may prove, once again, to be an effective instrument for passing on “the faith that was once for all entrusted to the saints (Jude1:3). Dikutip dari The New Presbyterian Catechism, p. 1.
11/ Dalam gereja tertentu kelas katekisasi dibuka 1 kali selama 1 tahun proses katekisasi berlangsung.
12/ Istilah “menyelamatkan” tidak dimaksudkan sebagai proses keselamatan dari yang tidak percaya (=masih hidup dalam dosa / belum bertobat) menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Penulis percaya bahwa proses keselamatan itu dikerjakan oleh Allah, melalui Roh Kudus (Bnd. Ef. 2:8-9). Yang dimaksudkan “menyelamatkan” adalah membimbing kembali jemaat kepada pengajaran yang benar di dalam Kristus.
13/ Rev. Bryn McPhill, The Reformed Theology Source, Version 4.0. Edifying Quotations, p. 3292. http://www.reformedtheology.ca.

Permalink 10 Comments

BERTUMBUH DEWASA MELALUI KEBENARAN

February 27, 2009 at 8:59 am (Khotbah)

elyardman2

Oleh: Elyardman Sarumaha

Nats: Yoh.8:32;17:7

Ilust. Saya pernah merencanakan mengundang seorang hamba Tuhan yang terkenal untuk melayani di GPMII Balikpapan. Tetapi untuk memastikannya saya bertanya kepada rekan yang mengetahui jelas tentang dia. tetapi saya terkejut karena info yang saya dapatkan dia sudah menyimpang dari kebenaran.

Jadi,bicara soal kebenaran, tidaklah cukup berkata aku kenal dia 1 tahun, 2 tahun yang lalu tetapi yang sangat penting adalah sekarang ini bagaimana?

Nah, bicara soal kebenaran ada 4 golongan yang perlu kita simak baik-baik:

1. TIDAK TAHU KEBENARAN TAPI TINDAKANNYA BENAR
Mungkin kita berkata, masa sih ada golongan seperti ini? Yang saya maksud dengan ‘tidak tahu kebenaran’ belum sampai kepada titik ‘mencerna/memahami/menjelaskan kebenaran itu sendiri.

Contoh: anak kecil. Anak kecil, bila kita perhatikan ada tindakan/perbuatannya yang menyatakan kebenaran. Ilust. Anak saya yang berusia 17 bulan, sebelum dia tidur tangannya sudah dilipat untuk berdoa – bandingkan dengan orang dewasa, kadang langsung tidur lupa berdoa. Tapi, kalau saudara bertanya kepada anak kecil mengapa ia melakukan demikian…..pasti ia jawab: kata papa/mama begitu (papa yang ajar atau mama yang ajar) atau nanti papa/marah

Saudara bisa bayangkan kalau GPMII terdiri atas orang-orang yang seperti ini bukan? Kita pasti akan kuatir …..:”siaga satu” terus……Sama seperti anak kecil yang masih belum bisa dilepas begitu saja. Mungkin kita berkata tapi kan yang penting kan tindakannya benar.

ILust. Di Sekolah Teologia seringkali ada pertanyaan seperti ini: Saudara pilih mana: ‘orangnya pintar tapi hatinya jelek’ atau orang bodoh tapi hatinya baik’. Kalau kita mau jujur sebenarnya harus dua-dua bukan (meskipun pilihan kedua yang paling banyak, orang suka)

Tidaklah cukup apabila tindakannya saja yang benar tetapi pengetahuannya tentang kebenaran itu harus jelas.

Inilah yang perlu kita kikis habis di GPMII ini bukan?

Jangan merasa puas hanya karena tindakannya benar

Periksa baik-baik kenapa ia melakukan hal itu

Periksa apa motivasinya

Periksa apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut.

2. TIDAK TAHU KEBENARAN DAN JUGA TINDAKANNYA TIDAK BENAR
Ilust. Saya masih ingat dengan sekelompok jemaat yang melakukan satu kegiatan rohani di satu tempat, tepat pada hari minggu. Akibatnya mereka tidak ibadah. Lalu saya menegor mereka. Sebagian diantaranya memang tidak mengerti jelas tentang konsep sabat. Pikirnya mereka sudah melakukan hal yang rohani sehingga dapat menggantikan ibadah hari minggu.

Saudara bisa bayangkan sendiri kalau GPMII terdiri atas orang-orang seperti ini. Saudara bisa bayangkan sendiri kalau para pemimpin di GPMII adalah seperti ini, kalau hal-hal yang mendasar tentang kebenaran/firman Tuhan tidak dipahami dengan baik. Celaka bukan?

Inilah proyek/tugas kita untuk mengubah orang-orang yang seperti ini.

3. TAHU KEBENARAN TAPI TINDAKANNYA TIDAK BENAR
Bila kita bertanya: apa sih yang menyebabkan Kaum Farisi dan Ahli Taurat tersandung bahkan mengalami kejatuhan yang mendalam? Apakah karena mereka kurang pintar? ….BUKAN! Tetapi apa? Selain konsepsi mereka sendiri, sebenarnya juga adalah masalah aplikasi atau penerapan taurat/firman yang mereka sangat kuasai (bahkan sangat detil) itu.

Bukankah ini juga kejatuhan terbesar hamba-hamba Tuhan, majelis, pengurus serta jemaat, yaitu ketika doktrin menjejali otak kita tetapi sangat miskin di dalam penerapannya?

Kita bisa saja tahu Alkitab dari A sampai Z

Kita bisa saja tahu teologia dari zaman bahela sampai zaman modern

Tetapi apa gunanya kalau hanya disimpan diotak saja tetapi penerapannya tidak ada?

Stephen Tong ketika berhadapan dengan teolog-teolog barat Regent College Vancouver dia pernah berkata: kamu teolog-teolog Barat, selalu menyimpan teologi dalam lemari es, sekarang saya harap keluarkan itu, lalu buatlah menjadi hangat.

Ilust. Setiap kali kami khotbah dengan istri saya, kami selalu ada bahasa yang mengingatkan….kita khotbah jangan sampai seperti tape recorder ya? Saudara tahu tape recorder bukan? Kita khotbah bukan hanya di sini (tunjuk kepala) tetapi di dalam hidup kita.

GPMII jangan senang kalau terdiri atas orang-orang pintar tetapi kosong di dalam tindakan.

GPMII membutuhkan orang-orang yang pintar dan juga bijak di dalam bertindak.

Yak. 2:22 – hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu menipu dirimu sendiri

4. TAHU KEBENARAN DAN JUGA TINDAKANNYA BENAR
DL Moody: Alkitab bukan diberikan untuk meningkatkan pengetahuan kita, melainkan untuk mengubah hidup kita.

Inilah yang kita butuhkan di GPMII, yaitu: Orang yang mau diisi oleh firman, doktrin yang benar, yang tekun mengisi diri …….tapi tidak berhenti di sana tetapi Juga yang bersungguh hati menerapkannya di dalam kehidupannya

Jangan menjadi tape recorder

Jadilah pelaku firman.

John Huss (1370-14-15), seorang martir yang merelakan diri dibakar api karena kebenaran, pernah berkata: “Carilah kebenaran – dengarkan kebenaran – ajarkan kebenaran – kasihi kebenaran – melekatlah pada kebenaran – dan pertahankan kebenaran sampai mati”.

Jangan menjadi orang yang ngomongnya kencang, kata-katanya hebat, pengetahuannya hebat…….tapi buahnya tidak ada

Juga jangan menjadi orang yang ken…….ca….ng di dalam pelayanan (tindakannya benar) tetapi pemahaman firmannya tidak ada.

ILust. Banyak orang Kristen mengimani Alkitab dari Awal sampai Akhir, tetapi belum pernah sama sekali membaca Alkitab dari Awal sampai akhir.

Kiranya kebenaran itu nyata dalam hidup anda.

Dan jangan lupa Yesus yang kita sembah adalah Diri-Nya Kebenaran (Aletheia).

Permalink 5 Comments

FINALITAS KRISTUS

February 27, 2009 at 8:53 am (Khotbah)

Kis 4:12, Yohanes 14:5-7

oleh Ev. Benny S. Rego

Pernahkah saudara mendengar perkataan seperti ini: “ Semua agama sama, …” keselamatan tidak hanya melalui Yesus Kristus,…. Dalam agama lain pun ada keselamatan….. Saudara saya banyak mendengar orang mengatakan seperti ini….Saudara kelihatan apa yang dikatakan itu adalah kebenaran… tetapi saudara-saudara ini adalah perkataan yang menyesatkan…apalagi kalau yang berbicara itu seorang hamba Tuhan atau orang Kristen. Mengapa hal ini adalah sesuatu yang salah……Saudara hari ini kita berbicara tentang finalitas Kristus. Apa arti finalitas Kristus?? Finalitas Kristus artinya Kristus merupakan titik final dari iman setiap orang percaya. Final disini bukan hanya sebagian dari karya Yesus tetapi seluruh keseluruhan hidup dan karya Yesus. Yesus adalah satu- satunya juruselamat, Yesus satu-satunya Tuhan, Yesus satu jalan keselamatan dan diluar Yesus tidak ada keselamatan. Ini adalah sesuatu yang final bagi orang Kristen. Tidak ada keselamatan diluar Kristus, tidak cara lain manusia bisa selamat selain didalam Yesus Kristus. Sdr. Ini adalah pengajaran yang sangat esensi bagi org Kristen, karena jika orang Kristen tidak meyakini finalitas Kristus, maka sama dengan dia menyangkal akan imannya kepada Kristus. Saudara kalau ada keselamatan diluar Kristus itu berarti kita tidak perlu menjadi orang Kristen dan percaya Yesus. Karena tidak melalui Yesus kita juga bisa selamat. Saudara kekristenan saat ini sedang digerogoti oleh teologia-teologia yang menyesatkan dari para teolog-teolog liberal dan teolog-teolog yang cenderung kompromi. Saya mencatat setidaknya ada dua ajaran yang berkembang yang menyesatkan tentang finalitas Kristus:

1. Pluralisme Agma “Pluralisme Agama” menerima dan mengakui ada kebenaran-kebenaran dalam semua agama-agama, tanpa membuang keunikan kebenaran agama-agama yang mereka percayai. Dan dalam perkembangannya gerakan ini yaitu “Pluralisme Agama” akhirnya melahirkan suatu teologi yang mereka sebut sebagai “Teologi Religionum”. 2. Teologia religionum Teologi Religionum”, gerakan teologi ini lebih maju lagi, yaitu mau menggabungkan semua kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama-agama dan menolak semua kemutlakan yang ada di dalam agama-agama, yang dapat menjadi benteng pemisah di antara mereka. Dalam hal ini termasuk juga “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat” di dalam kekristenan. Dengan kata lain mereka menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Karena bagi mereka semua kebenaran dalam agama dan tentang agama itu adalah “relative”. Semboyan dari gerakan “Teologi Religionum” yang sering mereka kumandangkan adalah “Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal”.

[2] Dalam konteks gereja-gereja di Indonesia, termasuk PGI…ini selalu gembar gemborkan mengenai pluralisme dan Teologia religionum: Alasan utama adalah toleransi dan menghargai agama lain. Alasan toleransi kelihatannya adalah sesuatu yang dapat diterima, tetapi pertanyaannya apakah dengan toleransi, maka dasar iman Kristen yang sesungguhnya/hakiki harus digadaikan? Apakah dengan toleransi, maka dasar iman kita yang sangat esensi harus dihilangkan. Toleransi adalah suatu etika bukan suatu ajaran. Kita bisa tetap toleransi tetapi ajaran iman Kristen tetap menjadi dasar pegangan kita. Kalau kita berbicara tentang iman Kristen dimana bukan sekedar salah satu iman tetapi satu-satunya iman yang tidak dapat diperbandingkan. Seorang Kristen yang sungguh-sungguh ia harus mampu untuk menyatakan imannya, yang adalah kebenaran itu diatas segala-galanya. Salah satu aspek yang saya rasa gagal dinyatakan oleh kekristenan adalah finalitas iman Kristen. MAsih banyak orang Kristen yang tidak meyakini bahwa keselamtan hanya melalui Yesus Kristus. Mengapa kita menuntut iman percaya kepada Tuhan Yesus dan bukan kepada yang lain? Ketika kita mengerti berapa finalnya iman Kristen, disana kita mempunyai kekuatan untuk menyatakan iman kita pada orang lain. Kita tidak dapat memberitakan Injil dengan benar kalau kita sendiri saja tidak yakin bahwa hanya melalui Yesus manusia diselamatkan, dan diluar Kristus tidak keselamatan dan kebenaran. Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan saya tidak akan menjadi orang Kristen jikalau ada keselamatan yang lain diluar Kristen. Inilah yang kemudian membawa kita pada suatu statement final yang dikatakan oleh Kristus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui aku .” Demikian juga statement final dari Petrus dalam Kisah 4:12 “dan keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” Mengapa kita yakin bahwa Yesus adalah finalitas dari iman orang percaya, apa dasar kita mengatakan finalitas dari iman Kristen adalah Kristius:

I. Yesus satu-satunya Pemilik Surga itu ( Yohanes 14:1-2) Yesus katakan jangan gelisah hatimu; percayalah kepada Allah dan percayalah juga kepadaku, dirumah Bapaku banyaklah tempat tinggal sebab aku pergi kesitu untuk menyediakan tempat bagimu. Ini adalah janji sekaligus pernyataan Yesus kepada murid-muridnya dan juga bagi semua orang yang percaya kepadanya. Ia akan menyediakan tempat atau surga bagi kita. Yesus berbicara kepada murid-muridnya bahwa dia akan mati dan bangkit setelah itu dia akan naik ke Surga untuk menyediakan tempat bagi semua org yg percaya padanya. Karena Yesus menginginkan dimana Dia berada disitu juga anak-anakNya harus berada. Saudara Yesus dengan jelas mengungkapakan kepada murid-muridnya, bahwa dia adalah pemilik surga itu. Dan Yesus seakan-akan mengatakan bahwa tidak seorangpun yang dapat menjamin bahwa mereka akan mendapat hidup kekal selain dirinya. Manusia atau siapapun tdk dapat menjamin seseorang utk masuk Surga ttp Yesus menjamin semua org yg percaya kepadaNya akan diselamatkan. Ini suatu jaminan dan janji Yesus kepada murid-muridnya dan juga kepada kita semua yang percaya kepada Tuhan. Kata aku pergi untuk menyediakan tempat artinya bahwa Yesus adalah pemilik surga itu sendiri. Dia akan pergi mendahului kita untuk menyediakan tempat bagi kita. Ini Jelas menunjukan bahwa Yesus sendiri adalah pemilik surga itu. Tidak ada yang lain. Jikalau dia adalah pemilik surga itu, tentunya anak-anaknya atau orang percaya secara otomatis disediakan tempat di Surga. tentunya dia tidak akan menyediakan tempat bagi orang yang tidak percaya kepada Dia yang bukan anak-anaknya. Apalagi orang itu menentang Yesus. Mana mungkin Ia memberikan kepada mereka surga untuk ditempati. Contoh: Kalau saya seorang kaya, lalu saya membangun satu istana yang megah, ada taman, ada kolom renang. Maka tentunya yang menempati istana saya adalah anak saya, istri saya. Bukan orang yang memusuhi saya atau orang yang membenci saya. Demikian dengan surga. Jikalau Yesus adalah pemilik surga itu tentunya yang menikmati surga itu adalah orang percaya yaitu anak-anaknya. Tidak ada satupun manusia, atau agama di dunia yang dapat menjamin bahwa dirinya atau pengikutnya akan masuk Surga, atau yang mengklaim bahwa Dia pemilik surga tetapi Alkitab mengatakan bahwa Yesus menyatakan dan menjamin bahwa kita untuk masuk Surga. Yesus telah menyediakan tempat bagi kita. Sdr. Yesus adalah pemilik surga itu sendiri, dan itu adalah sesuatu final, karena hanya Yesus jelas mengatakan dan menjamin setiap percaya untuk ke Surga. Dalam ayat 4. “dan kemana aku pergi engkau tahu jalan ke situ.

II). Yesus satu-satunya jalan menuju Surga . Ada satu pepata mengatakan; “ ada banyak jalan ke Roma” arti pepata ini adalah bahwa untuk mencapai sesuatu ada banyak cara. Misalnya kalau saya ke Sintang ; saya bisa naik kapal laut, bisa naik pesawat , bisa naik mobil. Hanya waktunya mungkin ada yang lebih cepat ada yang lebih lama tetapi yang pasti tujuannya sama yaitu suatu kelak akan tiba di Sintang. Saudara pepata ini tidak bisa dipakai dalam hal Surga, Alkitab mengatakan bahwa jalan satu-satunya ke Surga hanyalah melalui Yesus Kristus… Alkitab tidak mengatakan ada jalan lain selain melalui Yesus. Yesus katakana” Akulah jalan kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui aku” Mungkin ada orang yang mengatakan ada cara lain untuk masuk Ke Surga? Misalnya dengan berbuat baik, dan beramal? Tetapi pertanyaannya apakah ada manusia yang cukup baik yang yang lebih banyak melakukan yang baik dari pada berbuat dosa? Alkitab mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia cenderung untuk melakukan hal jahat dari pada berbuat baik. Sehingga Yesus katakan tidak satu pun manusia yang terlalu baik dihadapan Allah di dunia ini… Jikalau demikian tidak ada cara lain untuk manusia dapat diselamatkan atau masuk Surga. Saya adalah orang yang tidak bisa berenang, satu saat saya dengan teman-teman pergi ke pantai. Karena saya tidak bisa berenang maka saya menyewa satu ban mobil, agar supaya saya bisa berenang sama dengan tema-teman yang lain. Saking asyiknya kami mandi dipantai tidak terasa kami sudah mulai ketengah laut. Lalu tiba-tiba gelombang besar menghantam badan saya dan pelampung ban mobil yang saya pakai terlepas dari saya. Saya berusaha untuk menggapai kembali ban mobil tetapi itu semakin jauh, saya berusaha agar bisa berenang tetapi semakin saya berusaha berenang saya semakin tenggelam, dalm kondisi saya sudah tidak berdaya tersebut. Tiba-tiba saya merasa ada tangan yang memegang tangan saya dan mengangkat saya. Ternyata teman saya yang melihat saya dan menolong saya, dan akhirnya saya selamat. Kondisi manusia yang berdosa, seperti saya yang hampir tenggelam, semakin kita berusaha untuk menyelamatkan diri,kita akan semakin tenggelam, tetapi Allah melalui Yesus Kristus dia datang untuk menyelamatkan kita. Yesus mengulurkan tangan kasihnya mengangkat kita dari kukungan dosa, dan menyelamatkan kita. Yesus menyelamatkan manusia, bukan dengan cara yang muda dan gampang. Alkitab mengatakan bahwa sejak manusia jatuh dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah telah terputus. Manusia sudah diambang kebinasaan, karena upah dosa adalah maut. Tetapi oleh kasih Allah ia memberikan anakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus, untuk datang ke dunia, ia relah mati untuk menebus dosa manusia. Untuk menyelamatkan manusia, Allah bapa yang penuh kasih itu, harus relah memberikan anaknya satu-satunya, untuk menjadi manusia, untuk menderita di dunia, bahkan sampai mati di kayu salib untuk manusia. Saudara klaalau ada cara lain, ada jalan lain mungkin Allah bapa tidak akan memakai cara ini untuk menyelamatkan manusia, tetapi tidak ada cara lain, maka dia harus merelahkan puteranya mati bagi manusia. Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke Surga, bukan salah satu jalan. Kalau salah satu jalan ada kemungkinan ada jalan lain untuk ke Surga. Kalau ada jalan lain, selain harus melalui kematian Yesus. Maka Yesus tidak perlu berkorban dan mati di kayu salib. Tetapi tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Jalan satu-satunya yaitu harus melalui pengorbanan Yesus Kristus. Jalan satu-satunya yaitu Yesus harus mati dikayu salib. Yesus ketika berdoa ditaman getsemani “ Ia katakan … Ya Bapa jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi jangan kehendaku yang jadi tetapi kehendakMulah yang jadi….Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila aku meminumnya, jadilah kehendakmu. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan manusia, hanya melalui pengorbanan Yesus dikayu salib. Jikalau dikatakan Yesus satu-satunya jalan itu berarti tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa masuk ke Surga kalau tidak melalui Yesus. Agar manusia bisa selamat Yesus harus melewati jalan kesengsaraan (Via dolorosa), ia rela menjalani penderitaan, kesengsaraan dan puncaknya Ia harus mati di kayu salib. Ini Yesus lakukan untuk menyelamatkan manusia dari kukungan dosa. Banyak orang tidak senang mendengar perkataan hanya Yesus satu-satunya jalan ke surga, tetapi kenyataannya memang tidak ada cara lain, orang untuk dapat masuk ke Surga. Kalau ada cara lain manusia untuk masuk surga atau diselamatkan, maka Yesus tidak perlu menderita di kayu salib. Kalau ada jalan lain untuk manusia selamat lalu Yesus mati dikayu salib, maka tindakan Yesus adalah suatu hal konyol dan bodoh. Contoh: Saya tinggal dipastori lantai dua gereja, Jikalau tiba-tiba pastori terbakar, lalu anak saya dan saya ada dilantai 2 pastori. Api sudah mulai membakar bangunan gereja/pastori. Saya lalu menggendong anak saya dan melompat dan sesaaat sebelum menyentuh tanah saya melempar anak saya ketempat yang agak empuk, lalu anak saya selamat dan saya mati. Kalau seandainya pada waktu itu tidak ada jalan lain untuk anak saya bisa selamat, maka walaupun saya mati orang akan mengatakan saya pahlawan karena rela berkorban untuk anak saya. Tetapi kalau seandainya ada jalan lain misalnya melalui pintu belakang, tetapi saya rela mengorbankan nyawa saya, maka saya adalah orang paling bodoh di dunia. Demikian juga dengan Allah BApa, jikalu ada cara lain selain Yesus harus berkorban dan mati dikayu salib, lalu dia memakai cara seperti itu maka Allah itu adalah yang bodoh tetapi jelas cara lain, tidak ada keselamatan diluar Yesus Kristus, maka ia harus mengorbankan anak-Nya yang dikasihiNya. Di dalam Matius 19 secara tajam Tuhan Yesus berkata bahwa jalan yang Allah persiapkan bukanlah jalan yang sederhana tetapi jalan melalui penebusan darah dan pengorbanan Kristus. Kalau hari ini dalam perjamuan kudus kita mengenang bagaimana tubuh Kristus dikoyak dan darahNya dicurahkan itu merupakan satu-satunya jalan dimana Anak Allah harus naik ke kayu salib melakukan kebajikan yang sejati demi supaya saudara dan saya dapat menjalankan kebajikan yang sejati. Saudara tidak ada cara lain, tidak ada jalan lain, dimana manusia bisa beroleh keselamatan selain melaui Yesus Kristus. Ini adalah salah satu dari inti ajaran Kristen yang final. Tidak ada cara lain, tidak ada jalan lain…semuanya hanya melalui Yesus Kristus. Kalau kita kembali melihat apa yang dikatakan Petrus dalam KIsah 4:12 tadi, jelas Petrus dengan yakin mengatakan kepada Mahkama Agama. Bahwa dikolong langit ini tidak nama lain, tidaka da cara lain dimana manusia bisa diselamatkan.

3). Kristus mengatakan, “Akulah kebenaran dan hidup !” Ada 2 macam kebenaran yaitu a). Kebenaran asasi atau kebenaran keadilan (Truth/Alitheia) yang menjadi basis dari semua kebenaran dan b). Kebenaran Rigtheusness (dikaiosune) yaitu kebenaran yang harus diproses, dibuktikan secara waktu dan diuji oleh orang lain hingga kebenaran itu nyata menjadi satu kebenaran. Waktu Kristus mengatakan Akulah kebenaran (Truth/Alitheia) maka Ia adalah kebenaran asasi yang menentukan semua kebenaran. Saudara didalam dunia dan dalam agama apapun ada kebenaran tetapi bukan truth/alithea tetapi diakoisune/righteusnes; yaitu kebenaran yang masih harus diproses, dibuktikan secara waktu dan harus diuji. Yesus Kristus mengatakan bahwa kebenaran bukan kepada apa tetapi kepada siapa? Maka di dalam ayat ini Yesus mengatakan, “Akulah kebenaran.” Kalimat ini menjadi proklamasi yang begitu agung di tengah dunia. Didalam dunia ini tidak ada kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran yang sesungguhnya hanya ada didalam Yesus Kristus. Didalam dunia dan agama di dunia ada kebenaran tetapi kebenaran yang semu, yaitu masih memerlukan suatu proses pengujian yang dalam bahasa yunani diakoisune /righteusnes. Oleh sebab itu kebenaran Yesus adalah sesuatu yang final didalam iman Kristen. Selanjutnya Kristus mengatakan, “Akulah hidup.” Hidup disini adalah hidup yang sesungguhnya karena itu merupakan hidup satu-satunya yang sanggup mengalahkan dan menghancurkan kuasa kematian. Saudara ketika Yesus berbicara tentang kehidupan disini, Yesus tidak berbicara tentang hidup secara jasmani tetapi hidup secara rohani. Saudara semua manusia telah mati secara rohani, oleh sebab itu tidak ada satupun manusia bisa hidup diluar Kristus. Dalam pandangan Tuhan, kita seperti zombie atau mayat hidup. Kelihatan kita hidup bergerak tetapi sebenarnya kita telah mati. Bagaimana kita bisa hidup. Tidak sumber kehidupan lain di dunia ini selain melalui Yesus Kristus. Orang yang telah mati secara rohani tidak mungkin dapat melakukan kebenaran yang sesungguhnya. Oleh sebab itu Yesus yang telah mati ia bangkit supaya setiap orang memperoleh hidup dan hidup dalam kebenaran. Saudara yang dikasihi Tuhan, finalitas Kristus harus menjadi satu pegangan iman kita. Kita harus mengetahui, mengimani bahwa Yesus dan karyanya adalah sesautu yang final dalam hidup kita. Keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus; Yesus satu-satunya jalan dan pemilik surga itu sendiri; Hanya Yesus yang adalah kebenaran sesungguhnya diluar Kristus tidak ada kebenaran yang sejati, dan yang terakhir hanya Yesus sumber kehidupan manusia. Marilah dalam hidup kita, kita meyakini bahwa Yesus adalah satu-sunya Tuhan dan Juruselamt kita. Amin

Permalink Leave a Comment

Open Your Hands

January 3, 2009 at 8:31 am (Campassion)

newhopelogo

Terlepas dari +/- baik itu berkaitan dengan system maupun personnya (dosen dan mahasiswa) ada satu kebenaran yang harus kita ketahui bersama. Kebenaran itu adalah mereka menunggu ULURAN TANGAN KITA. Adakah teman-teman tergerak untuk bertindak menjadi caregiver bagi kampus kita? Please sharingkan kepedulian dan real actions teman-teman di halaman ini supaya memacu teman-teman yang lain untuk melakukan hal yang sama bahkan menjadi sebuah perlombaan untuk berbuat baik.

Permalink Leave a Comment

Happy New Year

January 3, 2009 at 8:21 am (Uncategorized)

new_hope_logo_color

Hai ……. kini kita sudah memasuki Tahun 2009, itu berarti bahwa kesempatan kita untuk membawa harapan baru bagi dunia sudah semakin berkurang. Secara khusus kesempatan untuk turut serta membangun kembali keberadaan kampus STTIAA/ITHASIA juga semakin sedikit.

Oleh karena itu, marilah kita membuat resolusi pribadi yang simple, aplicable and down to earth sehingga sisa waktu yang masih ada dapat tergunakan dengan maksimal di hadapan Tuhan.

Di sisi yang lain, marilah kita juga kembali men-digest  iman dan perbuatan kita dihadapan Tuhan Yesus Kristus. Melaluinya, kita akan kembali dapat menemukan who am i yang sesungguhnya di hadapan Tuhan dan itu akan membawa kita kepada sikap yang semakin rendah hati, peduli dan munculnya kesadaran absolut bahwa hanya Tuhan yang berhak memberikan penghakiman. Kiranya comment yang berisi kata-kata “munafik, bodoh, tolol, sok ….” tidak lagi tertuliskan di blog ini. Karena hanya Tuhan Yesus yang berhak memberikan penghakiman, sebab Dia mengetahui dengan akurat siapa dan apakah kita di hadapan-Nya.

Akhirnya, selamat bertumbuh, berbagi dan memberikan comments yang sifatnya konstrukstif. Kiranya kebesaran dan kemuliaan Tuhan tercermin dari setiap tulisan dan comments yang teman-teman tuliskan.

Regards

Admin

Permalink Leave a Comment

THEOLOGY REFORMED INJILI SEBAGAI JAWABAN BAGI GEREJA MENGHADAPI TANTANGAN POSTMODERNISME

December 23, 2008 at 7:53 am (Artikel) ()

Pendahuluan

Keberadaan gereja dewasa ini apabila diperhatikan sesungguhnya sedang menghadapi zaman yang begitu sulit. Kesulitan yang dimaksud bukan berbicara secara fisik dalam pengertian tengah menderita penganiayaan sebagaimana berlangsung sejak zaman mula-mula, namun lebih kepada kesulitan untuk tetap setia mewartakan kebenaran Alkitab dan firman Tuhan ditengah kepungan zaman yang dipenuhi oleh paham-paham yang semakin pesimis akan nilai kebenaran yang absolute. Belum lagi munculnya pemahaman-pemahaman teologi yang semakin bervariasi dan beraneka ragam yang tidak kurang pesimis akan kemampuan perangkat teologi konservatif untuk menjawab tantangan zaman.
Bermunculannya warna teologi yang baru seperti teologi pembebasan, teologi modern, teologi feminine, teologi social dan teologi sukses semakin membuat orang percaya terhanyut dan memalingkan perhatiannya dari dasar-dasar dan prinsip utama dalam iman mereka. Pengakuan iman dibuat tidak lagi berdasarkan apa yang dikatakan oleh Alkitab, melainkan apa yang telah dialami (subjectiveness) serta bersikap lebih toleran terhadap jenis kebenaran yang tidak bersumber dari Alkitab (compromiseness). Tidak banyak lagi yang menyuarakan secara lantang kebenaran Alkitab untuk mengoreksi semua pemahaman-pemahaman yang semakin menyeleweng ini.
Disinilah pergumulan tentang Teologi Reformed Injili mendapatkan tempatnya. Zaman yang semakin gelisah ini sebenarnya merindukan sebuah jawaban. Manifestasi kegelisahan tertuang dari semakin banyaknya orang melirik hal-hal yang gaib dan berbau mistis untuk menjawab kebutuhan spiritual yang sedang kosong. Gereja sedang menghadapi tantangan namun juga peluang untuk kembali membawa manusia bertemu dengan Tuhan yang sejati seperti yang tertulis dalam Alkitab.

1. Apakah yang dimaksud dengan Teologi Reformed Injili

1.1 Etimologi
Teologi Reformed Injili merupakan sebuah istilah yang dibangun atas 3 suku kata, digabungkan sehingga memiliki makna atau membentuk satu pengertian yang integrated. Kata pertama addalah kata teologi. Kata teologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, Theo dan Logos. Theo adalah Allah atau Tuhan, sementara Logos adalah ilmu. Encyclopedia of Britannica memberikan arti dari teologi sebagai “the attempt of adherents of faith to represent their statements of belief consistently, to explicate them out of the basis (or fundamentals) of their faith, and to assign to such statements their specific place within the context of all other worldly relation (e.g., nature and history) and spiritual processes (e.g., reason and logic) ”. Dengan demikian pengertian teologi adalah sebuah sarana untuk memproklamasikan Tuhan serta pengakuan-pengakuan atas keberadaan-Nya serta memberikan pengajaran dan pengabaran tentang Dia .
Reformed merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada gerakan pembaharuan gereja yang berlangsung sekitar abad 16 yang dilakukan oleh Marthin Luther melalui 99 dalil yang ditempelkan di pintu gerbang kota Wittenberg . Istilah “Reformed” atau “yang diperbaharui (direformasi)”. Yakub B. Susabda dalam bukunya Pengantar Kedalam Teologi Reformed mengatakan teologi Reformed sebagai teologi Alkitab yang ditemukan kembali. Hal ini mengandung pengertian bahwa teologi Reformed bukanlah sebuah teologi ciptaan yang baru ditemukan abad 16 tersebut, melainkan sudah ada semenjak Alkitab diwahyukan, karena sumbernya tidak lain dan tidak bukan adalah Alkitab itu sendiri (Sola Scriptura).
Injili atau evangelical adalah sebuah istilah yang akar katanya berasal dari bahasa Yunani, euangelion yang berarti kabar baik (good news). Pada abad 16, istilah ini ditujukan kepada kaum Lutheran yang menekankan pembenaran hanya melalui iman (justification by faith). Di kemudian hari, istilah Evangelical atau Injili menjadi istilah yang membedakan antara orang-orang yang mengikuti tradisi Luther dengan para pengikut Calvin. Pengikut Calvin disebut dengan kaum Reformed .
Dari etimologi yang dijabarkan diatas maka secara sederhana teologi Reformed Injili dapat didefenisikan sebagai pengakuan iman akan Allah sebagaimana yang dituliskan Alkitab dan diberitakan sebagai kabar baik kepada semua orang. Singkatnya teologi Reformed Injili ini adalah teologi yang diperbaharui (reformed) dengan semangat Injili
1.2 Latar belakang dan sejarah
Teologi Reformed sebagaimana dikatakan oleh Yakub Susabda sebagai teologi Alkitab yang ditemukan kembali sebenarnya memiliki latar belakang historis yang cukup panjang. Jika ditelusuri maka sebenarnya teologi Reformed berawal dari pemikiran-pemikiran bapa-bapa gereja yang bergumul secara serius tentang pokok-pokok iman Kristiani. Pemikiran Reformed bersinggungan erat dengan dinamika perkembangan pemikiran intelektual baik teologis maupun sekuler.
Beberapa paham seperti Rationalism , Existentialism , Empiricism, Renaissance dan Humanism, memberikan dorongan kepada para intelektual Kristen untuk bersikap lebih kritis terhadap dogma-dogma gereja yang pada waktu itu dimonopoli oleh Roma Katolik. Teolog-teolog yang sekaligus adalah bapa-bapa gereja seperti John Wycliffe, William Ockham, Marthin Luther, Anselmus, Erasmus, Huldrych Zwingli dan John Calvin menjadi sangat kritis terhadap praktek dan ajaran-ajaran gereja.
Pada puncaknya sikap kritis ini mengobarkan api reformasi dan membuat gereja akhirnya terpecah dalam dua kelompok: kelompok pro reformasi yang kemudian menghasilkan gereja-gereja Protestan dan kelompok kontra reformasi yang tetap bertahan dalam gereja Roma Katolik. Protestantisme kemudian membuat formulasi pengakuan iman yang tidak lagi sama dengan yang dimiliki oleh gereja Roma Katolik.
Pada perkembangannya teologi reformasi ini mengalami dinamika yang disebut oleh Yakub Susabda sebagai pergumulan aktualisasi iman dimana kemudian, masih menurut Susabda, pada realitanya bermunculanlah arus modernisasi dan industrialisasi yang menghasilkan semangat zaman (zeitgeist) yang dampaknya cukup serius. Dan ternyata kemudian serbuan filsafat dan paham-paham pemikiran yang membangkitkan serta memberikan penekanan terhadap kebebasan, kebaikan dan kemampuan manusia memberikan dampak yang dahsyat bagi gereja. Perpecahan gereja-gereja reformasi terjadi dimana-mana dan bermunculanlah gereja-gereja dengan doktrin yang kemudian lebih bersifat “sinkretis”. Yakub Susabda mengatakan bahwa teologi reformed hampir-hampir kehilangan jejaknya dan semangat serta prinsip-prinsip Reformed tidak lagi menjadi milik suatu denominasi .
Zaman yang terus bergulir selalu menghasilkan pergumulan dan tantangan yang baru bagi manusia termasuk gereja dan orang percaya. Dan hal ini telah mengakibatkan perubahan idealisme yang dimiliki oleh gereja. Singkat kata, teologi Reformed tidak lagi tertinggal sebagai teologi yang murni sebagaimana pada awalnya melainkan oleh masing-masing gereja telah diperbaharui dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai konteks pergumulan masing-masing. Nicholas Wolterstorff memisahkannya dalam tiga bentuk yaitu doktrinalist, culturalist dan pietist .
Pada akhirnya apa yang disebut Reformed hingga saat ini terpisah dan berbeda bukan saja dalam hal orientasinya melainkan juga dalam hal doctrinal , yaitu: (1) Reformed anti doctrinal, yang acuh terhadap formula-formula doktrin, sehingga cenderung sinkretitis , (2) Reformed Calvinist yang secara sungguh-sungguh berpegang hanya pada doktrin-doktrin John Calvin dari abad ke 16 dan menolak sama sekali pembaharuan dan perkembangan yang sesuai dengan tantangan dan tuntutan zamanya, (3) Reformed Modernist yang cenderung liberal dan kehilangan warna Reformednya sama sekali dan (4) Reformed Evangelical yang satu pihak dikenal sebagai bagian dari “kelompok Injili/evangelicals”, tetapi dipihak lain tetap mempertahankan keunikan doktrin-doktrin Reformed. Bagi kelompok ini teologi Reformed adalah pengaktualisasian kerangka pikir John Calvin dalam prinsip-prinsip teologi yang sesuai dengan tantangan zaman.
1.3 Keunikan Teologi Reformed
Reformed Injili sebagaimana yang dikatakan oleh Yakub Susabda sebagai bagian dari “kelompok Injili/evangelicals” adalah teologi yang berpegang teguh pada ajaran dan konsep teologi reformasi yang bersumber dari kerangka pikir John Calvin dimana disana terdapat pemahaman mengenai kedaulatan Allah, pembenaran dan keselamatan manusia, karya dan pekerjaan Kristus, pengudusan yang dilakukan oleh Roh Kudus, sakramen dalam gereja dan lain sebagainya. Five Point of Calvinism menjadi dasar bagi keseluruhan bangunan teologi reformed disamping beberapa pengakuan iman lainnya seperti Pengakuan Iman Rasuli, Westminster Confession of Faith, Belgic Confession of Faith dan Heidelberg Confession of Faith. Kelima point ini merupakan hasil Synode of Dorth yang diselenggarkan untuk meng-counter ajaran Jacob Armenius. Kelima poin ini menjelaskan apa yang dikatakan oleh Alkitab tentang Allah, dosa, manusia, pembenaran, pengudusan dan pemeliharaan Allah bagi ketahanan orang-orang kudus.
Mengapa Reformed Injili? Istilah ini sebenarnya merujuk kepada spirit yang dimiliki oleh orang-orang yang mencetuskannya, yaitu tetap memelihara api reformasi (ecclesia reformata et semper reformanda) sambil terus memelihara semangat penginjilan. Stephen Tong, salah seorang teolog Reformed Injili mengatakan pada salah satu khotbahnya yang dicatat dalam bulletin Pillar mengatakan: “ini adalah satu-satunya jalan bagi abad ke-21 yaitu gereja dibangkitkan kembali (revival). Banyak sekali gereja Injili yang kehilangan semangat untuk menginjili dan telah kehilangan tulang punggung iman yang mula-mula. Teologi tanpa penginjilan adalah mati dan penginjilan tanpa teologi adalah lemah. Tidak ada jalan selain menggabungkan keduanya”.

Konsep teologi dan pemahaman reformed Injili dapat dilihat dari penjabaran yang diberikan oleh Yakub B. Susabda dalam bagian penutup bukunya Pengantar Kedalam Teologi Reformed yaitu bahwa Reformed Injili: (1) inneranist dalam pandangannya terhadap Alkitab; (2) doctrinalist-ortodoks dalam memelihara dan mensistimatisir ajaran-ajaran reformed sesuai dengan kerangka pikir John Calvin dan teman-temanya; (3) culturalist dalam orientasi pelayanan, kesaksian dan keterlibatannya ditengah masalah-masalah sosial politik dan kebudayaan dan (4) pietist-revivalist dalam responsenya terhadap tantangan penginjilan ditengah dunia.

2.1 Postmodernisme

2.1 Apakah yang dimaksud dengan Postmodernisme
Postmodernism merupakan sebuah istilah yang menunjuk kepada zaman yang meninggalkan jejak-jejak modernism. Kata Post didepan kata modernism menunjukkan bahwa keberadaan zaman ini adalah setelah zaman modern. Zaman modern merupakan era universal civilization yang menumpukan harapan pada kemampuan nalar-rasional dan kemampuan mesin teknologis yang acapkali semakin meminggirkan mereka yang tidak berada dalam arus utama ini . Nurhamzah, seorang dosen pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, mengutip Frans Magnis Suseno, mengatakan: “modernisasi adalah sebuah keniscayaan sejarah yang pasti menyambangi sebuah peradaban manusia, tak peduli apakah ia menghendakinya atau tidak. Merupakan satu revolusi kebudayaan paling dahsyat yang dialami manusia sesudah belajar bercocok tanam dan membangun rumah. Ia bagaikan air bah yang terus menerjang benteng-benteng kokoh mitologis masyarakat primitive dan menggantinya dengan bangunan baru yang lebih rasional, kritis dan liberal. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak dari padanya ”.

Masih mengutip Suseno, Nurhamzah memberikan tiga penemuan penting yang mengawali keberadaan Zaman Modern, yaitu penemuan dan pemakaian bubuk mesiu, mesin cetak dan kompas pada abad ke-15 M di Eropa.
Pendapat tentang dahsyatnya pengaruh modernisasi terhadap tatanan dunia dan masyarakat yang diwakili oleh kutipan diatas cukup memberikan gambaran bagaimana modernisme telah menjadi “sihir” bagi peradaban manusia dan mengguncang seluruh sendi-sendi kehidupannya. Modernitas menguasai segala hal dalam kehidupan manusia. Hampir tidak ada yang tidak tersentuh olehnya. Kehadiran materialisme, pragmatisme serta hedonisme sebagai ekses dari modernisasi, menguasai pikiran manusia dan hanya terdapat sedikit orang-orang yang tidak setuju terhadapnya.

2.2 Konsep dan filsafat Postmodernisme
Ciri utama postmodernisme adalah menafikan absolutisme. Segala hal bersifat relative, tergantung subyektivitas seseorang. Sesuatu dapat menjadi kebenaran bagi sekelompok orang tapi belum tentu untuk kelompok lainnya. Dan ini dianggap sah-sah saja. Manusia kehilangan daya kritisnya dan menjadi begi tu permisif terhadap segala nilai dan hal-hal yang dipandang sebagai kebenaran. Marthen L. Maarisit dalam artikelnya berjudul Hipersemioka dan Postmodernisme mengatakan: Postmodernisme (pasca modernisme) adalah gerakan kebudayaan yang menentang gerakan modernisme dan filsafat-filsafatnya serta kecenderungannya ke arah keaneka-ragaman, kelimpahan dan tumpang tindihnya berbagai citraan dan gaya yang satu-sama lain tidak saling berhubungan, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi, pendangkalan makna kebudayaan dan sebagai gambaran dari fenomena budaya dalam ruang lingkup dan aspek yang lebih luas. Postmodernisme sebagai suatu gerakan intelektual/kultural yang kontroversial dan merupakan campuran dari keberagaman aliran pemikiran, tradisi, dan masa lalu, yang didasari oleh keraguan akan kemampuan modernisme dalam mewujudkan janji-janjinya yaitu masyarakat ilmiah yang adil dan makmur berdasarkan sains telah menjadi suatu fenomena baru, yang kemunculannya, ibarat sebuah ledakan yang mengagumkan sekaligus membuat bingung dan cemas .
Bigman Sirait dalam sebuah artikel di tabloid Reformata mengatakan bahwa tidak mudah membicarakan gerakan ini, karena terdapat banyak pendapat mengenainya . Satu hal yang pasti mengenai gerakan ini adalah cara dan orientasi berpikir bergerak dalam perubahan. Tidak ada suatu bentuk yang baku untuk mendefinisikannya. Bahkan menurut Maarist, postmodernism memiliki kaitan yang erat dengan apa yang disebut sebagai hipersemioka . Masih menurut Maarist, hipersemiotika tidak sekadar teori kedustaan, melainkan teori yang berkaitan dengan relasi-relasi lainnya yang lebih kompleks antara tanda, makna dan realitas, khususnya relasi simulasi. Hipersemiotika yang berarti melampaui batas semiotika merupakan sebuah kecenderungan yang berkembang pada beberapa pemikir, khususnya pemikir semiotika yang berupaya melampaui batas oposisi biner (prinsip pertentangan di antara dua istilah berseberangan dalam strukturalisme, yang satu dianggap lebih superior dari yang lainnya: maskulin/feminin. Barat/Timur, struktur perkembangan, fisika/meta-fisika, tanda/realitas dsb. Prinsip ini sangat sentral dalam pemikiran struktural mengenai semiotika, antara lain: perubahan dan transformasi, sifat imanensi, perbedaan, permainan bahasa, simulasi, dan diskontinuitas .

3. Teologi Reformed Injili Menjawab Tantangan Postmodernisme

Zaman bergerak dan terus mengalami perubahan. Prinsip dan nilai-nilai baik dalam kehidupan sosial budaya bahkan agama tidak ada yang tidak mengalami pergeseran. Banyak hal dari perubahan tersebut memang membawa dampak yang positip misalkan dalam hal teknologi, industri dan komunikasi, namun tidak sedikit juga yang pada akhirnya mendatangkan kerugian bagi nilai-nilai kehidupan manusia.
Posmodernisme melakukan apa yang disebut evolutions in society, economy and culture since the 1960 . Evolusi merupakan suatu perubahan yang berlangsung secara perlahan namun pasti. Dan inilah sesungguhnya yang terjadi dan melanda seluruh aspek kehidupan manusia. Kehidupan manusia diatas permukaan bumi tidak pernah sama lagi sejak era modernitas ditelurkan dan kemudian menetas. Manusia dengan rasionya memustahilkan kemustahilan. Kreativitas dan kemampuan logika menjadi ’Tuhan” yang dianggap mampu menjawab segala sesuatu yang dulunya terasa tidak ada jawabannya. Manusia menjadi begitu kritis terhadap segala bentuk keyakinan dan kepercayaan yang dianggap tidak masuk akal dan tidak dapat dibuktikan kesahihannya. Manusia menjadi pesismis dengan agama dan segala instrumennya. Iman dianggap hanya akan melemahkan manusia karena membuatnya akan cepat menyerah pada tantangan dan kesulitan yang ada, padahal sesungguhnya dengan mengerahkan segenap kemampuan dan keahlian yang ada, tantangan tersebut bisa ditaklukkan.
Pengagungan ilmu pengetahuan yang dimilikinya membuat manusia tidak lagi membutuhkan hal-hal yang supra natural. Perkembangan di dunia medis semakin mengokohkan keyakinan bahwa umur manusia berada ditangannya sendiri. Hampir tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kehidupan manusia seakan bertumpu pada dua hal: uang dan mesin. Modernitas membawa manusia kepuncak explorasi diri yang paling maksimal.
Akan tetapi putaran zaman belum berhenti di era modernitas. Setelah manusia habis-habisan mengexplorasi nalar dan logikanya, muncul sebuah kesadaran lain bahwa ternyata modernitas ternyata bukanlah jawaban atas segala persoalan yang muncul dalam kehidupan manusia. Modernitas meninggalkan sebuah lobang menganga dan lupa ditutup oleh hingar bingarnya kehidupan modern. Mulai munculnya penyakit-penyakit yang aneh dan tidak wajar, tuntutan hidup yang akhirnya membawa kepada tekanan psikologis, ketidakadilan, dan sebagainya memaksa manusia untuk mengevaluasi kembali benarkah modernitas adalah jawaban bagi peradaban manusia? Lobang menganga yang lupa ditutup oleh modernitas menuntut pengisian. Dan post modernisme menawarkan solusi atas persoalan ini. Dikatakan di dalam Wikipedia Postmodernism is a movement of ideas arising from, but also critical of elements of modernism. Because of the wide range of uses of the term, different elements of modernity are viewed as being coterminous; and different elements of modernity are held to be critiqued.
Postmodernisme menolak dominasi akal dan logika atas kehidupan manusia. Karena ternyata hal tersebut tidak menjadikan manusia lebih arif dan bijak. Objektivitas yang diagungkan oleh modernitas diubah menjadi subjektivitas.
Disinilah letak persoalan yang tidak disadari mengancam. Seperti dikatakan oleh Maarist sebelumnya bahwa akibat postmodernisme kebudayaan mengalami pendangkalan, pluralisme merajalela, lahirnya kontradiksi dan pada akhirnya melahirkan kebingungan dan kegelisahan.
Tidak terkecuali gereja, juga terkena imbas dari postmodernisme ini. Pada awalnya seorang teolog Jerman yang memperkenalkannya. Karl Bart menjadi seorang pionir paham teologia yang dikemudian hari dikenal sebagai bapak teologi liberal. Iman menjadi sebuah pengalaman subjektif yang tidak dapat dipaksakan kepada orang lain, karena setiap orang berbeda dalam pengalaman imannya. Yang terpenting kemudian bukanlah apa yang tertulis dalam Alkitab melainkan apa yang tereflexi dalam kehidupan manusia. Padahal tentu saja pengalaman setiap orang berbeda-beda. Inilah kemudian yang menimbulkan kegelisahan dan kebingungan. Bahkan telah nyata dibeberapa gereja, nilai kebenaran mulai memudar dan lebih didominasi oleh semangat pluralisme. Keunikan iman Kristen dianggap tidak ada bedanya dengan keunikan yang terdapat dalam agama atau keyakinan iman yang lain.
Bagi gereja Tuhan yang sejati, ini sesungguhnya adalah tantangan sekaligus kesempatan yang besar untuk memenuhi panggilan sebagai corong kebenaran ditengah kehidupan dunia. Dunia memang sedang memalingkan wajahnya dari nilai kebenaran yang hakiki, namun bukan berarti mereka tidak membutuhkannya. Tugas gerejalah untuk senantiasa memunculkan kesadaran akan nilai yang hakiki tersebut. Namun apa yang akan dilakukan apabila gereja sendiri mengadopsi paham yang penuh dengan keragu-raguan tersebut? Orang Kristen bangkit bukan untuk membela konsistensi ajaran yang diwariskan oleh para rasul terdahulu, namun justeru untuk menggugatnya dan kemudian atas nama kerukunan hidup beragama, iman direduksi sedemikian rupa sehingga hanya menjadi kertas pembungkus yang diberi label: Kristen. Tidak mustahil suatu saat nilai-nilai dan keunikan iman Kristen hilang sama sekali diganti oleh pemahaman universalisme dimana disana setiap orang boleh mengklaim apa saja yang dianggapnya benar selama hal tersebut tidak menimbulkan konflik dan pertentangan.
Gereja Tuhan sekarang ini sedang membutuhkan orang-orang yang masih terus mempertahankan imannya yang murni serta semangat dan konsistensi yang kuat untuk menelanjangi topeng postmodernisme yang telah membuai jemaat dan orang-orang percaya. Kebenaran sejati harus bersumber dari sesuatu yang absolut dan bukan yang relatif. Pengalaman bukanlah dasar bagi iman melainkan imanlah yang harus dihidupkan dalam pengalaman dan praktek hidup. Semboyan Reformasi SOLA GRACIA, SOLA FIDE dan SOLA SCIPTURA masih tetap menjadi spirit yang ampuh untuk mematahkan segala tawaran relativisme kaum posmo. Yohanes 14:6 merupakan kebenaran yang sampai kapanpun juga tidak akan dapat ditawar oleh siapapun.
Namun gereja yang hanya membangun pemahaman yang benar untuk dirinya sendiri juga tidak akan berguna. Perlu suatu kesadaran untuk ’meneriakkan’ kebenaran tersebut agar banyak orang yang ingatkan kembali dan dibawa kedalam pemahaman iman yang benar. Untuk itulah perlunya penginjilan seperti yang diamanatkan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Mat. 28:19. Teologi Reformed Injili sesungguhnya menjadi ’paket’ yang komplit untuk menjawab tantangan ini. Oleh karena pengajaran yang dimiliki terbukti tetap konsisten dengan apa yang diajarkan oleh para rasul dan ditambah oleh kesadaran akan pentingnya pekabaran Injil sehingga teologi ini dapat menjadi benteng gereja untuk membendung derasnya arus postmodernisme.

4. Kesimpulan

Zaman dari waktu kewaktu mengalami perubahan. Dan setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Modernitas telah membuat manusia menyadari sepenuhnya potensi yang dimilikinya sehingga melakukan explorasi atas segala kemampuannya.
Namun demikian modernitas harus mengakui bahwa eranya akan berlalu seiring dengan kesadaran baru yang dimiliki oleh manusia bahwa ternyata modernitas bukanlah jawaban akan segala masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia. Manusia kembali merasa gelisah dan sibuk mempertanyakan identitas dirinya yang hakiki. Objektifitas bukan lagi sesuatu yang harus dipertahankan. Manusia berhak menentukan kebenaran menurut versi dan keyakinannya masing-masing. Pemujaan terhadap relatifismepun begitu merajalela.
Maarist mengatakan, ” Zaman sekarang, kita tengah hidup di abad postmodern, yang walaupun penuh kontroversial, tetapi faktanya telah banyak mempengaruhi kehidupan gereja baik secara positif maupun negatif dengan ciri khas pemudaran kebenarannya”. Terbukti dengan beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh beberapa teolog Kristen dan aliran gereja yang berbeda, bahwa sebagian besar mereka menerima postmodernisme secara positif walaupun dengan beberapa syarat atau ragu-ragu, namun sebagian lagi menerimanya secara negatif dengan menolak langsung. Postmodernisme yang berpijak di atas pikiran relativisme dan nihilisme, dan telah menjadikan hipersemiotika sebagai kekuatan utamanya, jelas akan akan membawa dampak negatif sebagai pemudaran kebenaran bagi kehidupan gereja-gereja di Indonesia.
Oleh sebab itu gereja perlu sekali untuk tanggap dan membangun benteng perlindungan bagi jemaat agar tidak dihanyutkan oleh paham yang sedang berusaha membius semua orang sekarang ini. Dengan cara apa? Yaitu dengan kembali menghidupkan api reformasi yang berpijak pada SOLA GRACIA, SOLA FIDE dan SOLA SCRIPTURA. Posmodernisme menawarkan kompromistis namun gereja harus berani untuk berkonfrontasi. Tentu saja dengan hikmat seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, cerdik seperti ular namun tetap tulus seperti merpati. Aktifitas Pekabaran Injil janganlah sekedar formalitas belaka namun harus dapat menjadi sarana yang ampuh untuk mengkomunikasikan kebenaran yang sesungguhnya.

Daftar Pustaka

Alston Jr, Wallace M. Reformed Theology. Michigan : William B. Eerdmans

Publishing Company, 2003

Calvin, John. Biblical Christianity. London: Grace Publication Trust, 1987

Calvin, Yohanes. Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985

Encyclopedia Britannica Suite Ultimate References DVD

Maarist, Marthin L, Hipersemioka dan Postmodernisme. Gloria Cyber

Ministries

Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern: Sebuah Rekonstruksi Spiritual

Manusia Modern. Sebuah Makalah yang disampaikan pada Annual

Conference di Grand Hotel Lembang, Jawa Barat 26-30 November 2006.

Sirait, Bigman, Antara Iman dan Sugesti. Tabloid Reformata edisi 69, hal. 28

Sproul, R.C. Soli Deo Gloria. Amerika: Presbyterian and Reformed Publishing

Company, 1976

Susabda, Yakub B, Pengantar Kedalam Teologi Reformed. Surabaya:

Lembaga Reformed Injili, 1994

Walls, Jerry L and Dongell, Joseph R. Why I am Not A Calvinist. Illinois:

InterVarsity Press, 2004
Wikipedia, free encyclopedia. Internet Explorer

Oleh: Memoriang Zebua

Permalink 1 Comment

Enjoy Jakarta

December 17, 2008 at 5:07 am (Uncategorized)

Kalau lagi ke Jakarta jangan lupa mampir ke tempatku ya? (Simon n Memo)

Probless Community

Gd. ITC Kuningan lt. 9 Kav. 3 Jl. Dr. Satrio/Casablanca Jakarta Selatan (021.579.350.77)

Permalink 37 Comments

Welcome Blogers …..

December 12, 2008 at 3:40 am (Artikel, Uncategorized)

2

Blog ini sengaja di buat untuk membangun kerjasama dan jejaring dengan siapa saja yang pernah kuliah di STTIAA – Pacet – Mojokerto – Jawa Timur. Dimanapun teman-teman berada, ingatlah bahwa semuanya berawal dari SEBUAH KESEDERHANAAN DAN KETIADAAN yang sempurna. Ketika kini anda “MENJADI SESUATU” ingatlah bahwa masih banyak teman-teman kita yang sedang berjuang untuk “MENJADI SESUATU.” Kitalah yang bertanggung jawab membantu dan menolong mereka dengan semua yang kita miliki. GBU

Permalink 8 Comments

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.