KEPEMIMPINAN SEORANG GEMBALA

December 1, 2008 at 4:31 am (Khotbah) (, )

Pdt. Ruslan Christian, S.Th, M.Div.

Sampai awal abad 20 lalu, kemunculan dan tenggang waktu perubahan kebudayaan, misal adanya penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, teknologi, perpindahan penduduk, perubahan politik dan ekonomi, memerlukan waktu beberapa generasi, tetapi sejak abad 20 perubahan itu terjadi sangat cepat. Ilmu dan ketrampilan yang diperoleh seseorang pada usia 20an akan menjadi kuno dan kadaluwarsa pada usia 30an. Perubahan-perubahan yang sangat cepat ini terjadi di segala bidang dan mengubah secara drastis tatanan dan gaya hidup masyarakat dunia pada umumnya.

Menghadapi perubahan-perubahan dahsyat tersebut banyak individu, keluarga, perubahan, lembaga pendidikan, pemerintahan dan lembaga-lembaga lainnya, menjadi bingung, menemui jalan buntu dan kehilangan arah. Tidak terkecuali gereja, baik sebagai organisme maupun kelembagaan, bisa pula terjebak dalam kebingungan dan kebuntuan yang sama. Sebab itu para pemimpin gereja yang berperan sebagai gembala jemaat tidak boleh acuh tak acuh serta berpangku-tangan menghadapi perubahan dahsyat yang tengah melanda dunia dalam milenium baru ini. Sebaliknya para pemimpin gereja (pengurus, majelis, penginjil dan pendeta), khususnya para pendeta atau gembala sidang, patut selalu mengenal trend zaman, bersikap kritis, fleksibel, dan proaktif dalam peran penggembalaan dan kepemimpinannya. Di atas semua itu, yang paling utama dan fundamen bagi para pemimpin gereja adalah Kristus dan firman Allah.

Dunia Yang Menyempit Dan Tantangan Yang Berlipatganda

Menurut futurolog Alvin Toffler, sekarang kita hidup dalam era informasi atau super industri. Periode ini dimulai pada sekitar pertengahan abad 20 lalu. Dalam era ini terjadi perubahan yang sangat cepat dan besar-besaran, lebih dahsyat daripada masa sebelumnya yakni era pertanian dan industri. Akselarasi perubahan ini dipicu dan dipacu oleh perkembangan komputer, teknologi informasi, dan transportasi. Sebagai akibatnya penduduk dunia ini menjadi terhubung satu sama lain dan melahirkan apa yang disebut globalisasi. Dunia yang kita huni bersama bukan lagi tempat luas yang memisah-misahkan kita, melainkan dunia yang “sempit” sebagai “desa” kita bersama.

Selain wajah globalisasi yang menampilkan tekoneksinya antar bangsa di berbagai belahan dunia melalui teknologi informasi dan transportasi, era informasi dan globalisasi juga menampilkan wajah yang keras berupa tantangan yang berlibat-ganda. Tantangan bersama yang dihadapi umat manusia ini juga sedang dihadapi oleh jemaat Tuhan dan khususnya para pemimpin gereja masa kini. Ada beberapa tantangan yang tidak dapat kita sepelekan dan harus diperhitungkan oleh para pemimpin gereja masa kini.

Pertama, bidang ekonomi. Dunia ini sudah menjadi kesatuan ekonomis, dimana hubungan dan saling ketergantungan ekonomis melonjak. Situasi ini menjadikan keputusan ekonomi menjadi prioritas utama dalam hubungan antar bangsa. Pemberlakuan pasar bebas AFTA akan terwujud pada tahun 2003. Prinsip Deklarasi Marrakesh (Marokko) yang merupakan penerapan globalisasi 2020 adalah : Eksportir atau produsen bebas masuk ke suatu negara; setiap orang/konsumen bebas membeli barang atau jasa termasuk dari luar negeri; setiap orang bebas medirikan pabrik, kantor, perwakilan di negara lain; setiap orang bebas berusaha di negara lain tidak ada perlakukan berbeda/istimewa terhadap negara lain; perlakuan terhadap produsen luar negeri sama dengan terhadap dalam negeri.

Implikasi perdagangan bebas demikian akan memunculkan bangsa dan orang-orang yang tersisih secara ekonomis dan sosial. Di dunia ini ada lebih dari dua milyar orang hidup dalam kemiskinan, kelaparan, dan tanpa tempat tinggal. UNICEF pernah mengecam beban hutang yang menyebabkan kematian 500.000 anak-anak setiap tahun. Infeksi dan malnutrisi telah menyebabkan kematian 225.000 anak-anak setiap minggu. Di Indonesia sendiri angka pengangguran sangat tinggi. Anak putus sekolah yang jumlahnya tidak sedikit juga akan berpeluang menjadi menganggur. Sederetan panjang problema ekonomi dan sosial masih dapat kita temukan lagi. Sebab itu para pemimpin gereja masa kini tidak boleh mengabaikan implikasi faktor ekonomi dan sosial ini di dalam pengajaran dan tugas penggembalaannya. Mengabaikan hal ini berarti melakukan pelayanan yang tidak utuh.

Kedua, lonjakan informasi. Informasi yang dihasilkan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir telah jauh melampaui yang terdapat dalam kurun waktu 5000 tahun sebelumnya. Media, informasi dan komunikasi dapat kita temukan dalam wujud koran, radio, televisi, VCD/DVD, ponsel, komputer, internet, dsb. Informasi yang mudah dan murah ini bukan berarti bebas nilai dan selalu benar. Sebaliknya pelbagai informasi tersebut sering hanya berisi separo kebenaran atau yang menyesatkan. Celakanya pelbagai informasi yang demikian ini juga membanjiri dan mudah diakses anak dan remaja. Ini menjadi tantangan yang tidak boleh diremehkan para pemimpin gereja sebab pelbagai informasi akan membentuk worldview dan perilaku umat manusia masa kini, termasuk warga jemaat.

Ketiga, moralitas yang kacau. Industri pornografi sudah menggurita kemana-mana, baik di kalangan orang dewasa maupun anak-anak. Hal ini merembes ke dalam acara televisi, film, games, komputer, playstation, VCD, komik, majalah, internet, dsb. Kekacauan, moralitas bisa terindikasi melalui banyak pengidap AISD dan HIV positip, makin bertambahnya orang yang terlibat dengan narkoba, pecandu alkohol, keluarga yang berantakan, perceraian, pergaulan kaum muda yang bebas, kehidupan seksualitas yang liar, tingkat kejahatan yang makin meluas dan intensif, dsb. Dengan keadaan demikian bukankah dampak kekacauan moralitas juga akan mempengaruhi kehidupan warga gereja dan sekaligus menjadi tantangan bagi para pemimpin gereja?

Kempat, kekristenan yang cenderung melemah., Tantangan yang semakin besar dan berat menuntut kesatuan dan daya gereja yang besar untuk menghadapinya. Namun kecenderungan menunjukkan adanya kemerosotan kualitas kekristenan zaman ini, baik dalam ranah doktrinal maupun etis kehidupan sehari-hari. Ajaran yang alkitabiah sering digantikan dengan pengalaman subyektif-mistis yang bertentangan dengan Alkitab. Berita Injil yang berpusat pada Kristus digeser menjadi “injil” sukses dan meninabobokan orang berdosa. Parameter untuk menilai pertumbuhan gereja semata-mata gedung mewah, jumlah pengunjung, serta mengabaikan kualitas kemuridan. Perilaku sehari-hari antara orang Kristen dan bukan Kristen menjadi sulit dibedakan karena tidak ada perbedaannya.

Pemimpin Gereja Dalam Era Globalisasi

Menghadapi tantangan pelayanan yang besar dalam era informasi atau purnamodern ini para pemimpin gereja tidak boleh terhanyut pada tujuan yang sesat, hanya mencari popularitas, keuntungan materi, atau kepentingan pribadi. Falsafah dan peran kepemimpinan Kristen masa kini haruslah dibangun berdasarkan prinsip Alkitab dan dengan memperhitungkan tantangan zaman ini. Ada beberapa prinsip yang dapat menjadi pedoman bagi kepemimpinan Kristen masa kini.

Pertama, wibawa kepemimpinan berdasarkan karakter yang baik. Dalam I Tim 4:12 Paulus menasehati Timotius, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.” Paulus menasehati demikian karena Timotius gembala yang relatif muda (30-40 tahun) atau penakut. Sebaliknya ia harus memenangkan hormat jemaat dengan cara menjadi teladan atau memiliki kepribadian/karakter yang benar, bukan melalui gelar akademis, tipu muslihat atau cara lain. Adanya kriteria bagi para pemimpin gereja juga menegaskan prinsip ini (I Tim. 3:1-13).

Kedua, menjadi teladan bagi orang-orang percaya. Pemimpin gereja tidak mungkin orang yang sempurna, namun ia dapat menjadi teladan bagi warga jemaat. Menurut ayat di atas keteladanan itu dalam perkataan, tingkah laku (dalam arti luas), kasih, kesetiaan, kesucian (bukan hanya dalam hal seksualitas, tapi juga kesucian dan integritas hati, serta tingkah laku). Prinsip keteladanan ini sangat ditekankan Paulus (I Kor. II:1; Fil. 3:17). Ini merupakan prinsip pemuridan yang fundamen dalam kekristenan. Dapatkah seorang pemimpin gereja mengajar dan mempengaruhi jemaat jika teladannya tidak bersesuaian dengan ajarannya? Itu sebabnya mengapa mengawasi diri tidak terlepas dari mengawasi ajaran (I Tim. 4:16).

Ketiga, menjadi komunikator kebenaran. Paulus menasehati agar Timotius bertekun dalam membaca Alkitab, membangun dan mengajar (I Tim 4:13). Ini merupakan tugas publik Timotius dan menjadi jalan untuk menghadapi ajaran sesat pada saat itu (2 Tim. 3:14-17). Mengajar merupakan tugas yang penting bagi pemimpin gereja di dalam era informasi ini. Sebab melaluinya worldview dan doktrin yang benar dapat ditanamkan dalam kehidupan jemaat, penyesatan dapat ditangkal, informasi yang membingungkan dan menyesatkan dapat dihadapi dengan sehat.

Keempat, menggembalakan jemaat. Tanggung jawab utama para pemimpin gereja adalah menggembalakan jemaat Tuhan (1 Ptr. 5:3). Ini berarti memperhatikan kesejahteraan rohani jemaat agar mereka dapat hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Keadaan zaman ini memungkinkan banyak orang tersesat dan harus dibimbing menerima Yesus, orang yang lemah iman perlu dikuatkan, keluarga yang dilanda problema perlu dibimbing mendapatkan kemenangan, dan masih banyak problema lain yang menuntut tanggung jawab penggembalaan dari gembala jemaat.

Kelima, mengenal nilai dan arah zaman. Para pemimpin gereja harus memimpin dan menggembalakan warga jemaat menuju tujuan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan bagi gerejaNya. Di samping memiliki kehidupan yang benar dan setia kepada firman Tuhan, para pemimpin gereja patut mengenal nilai dan arah zamannya. Dengan kata lain, memiliki sensitivitas terhadap kebudayaan zamannya. Pengenalan ini akan membantu pemimpin gereja merumuskan dan mempertajam visi pelayanan dan meningkatkan efektivitas penginjilan di tengah zamannya. Ini berimplikasi bahwa para pemimpin gereja secara progresif terus meningkatkan kualitas kerohanian dan wawasannya.

Keenam, membangun pelayanan yang berdasarkan kerjasama tim. Dalam era globalisasi yang multi tantangan ini mustahil seorang pemimpin sanggup memikul seluruh tanggung jawab seorang diri saja. Zaman ini tidak memerlukan kepemimpinan yang hanya mengandalkan figur dan kharisma seorang pemimpin saja. Tantangan yang besar dan berdimensi luas harus diatasi melalui kerjasama di antara para pemimpin gereja, antara pemimpin dan warga jemaat, dan antar warga jemaat sendiri. Sudah saatnya orang Kristen melayani sebagai suatu jejaring kerja yang luas di tengah dunia ini.

Tantangan pelayanan dalam era informasi ini memang sangat besar dan berdimensi luas yang menyangkut bidang teologi, filosofi, kebudayaan, sosial, ekonomi, praktika, dsb. Namun para pemimpin gereja harus bersandar pada Kristus. Sang Gembala Agung, yang telah berjanji tentang gerejaNya bahwa “alam maut tidak akan menguasainya.” Bagian tanggung jawab pemimpin gereja masa kini adalah terus mengawasi dinamika pertumbuhan dirinya, pengajarannya, dan tanggung jawab penggembalaan yang dipercayakan kepadanya, hingga satu hari kelak ia memperoleh hadiah dan pujian dari Tuhan Yesus sendiri.

*)Pdt. Ruslan Christian S.Th, M.Div adalah gembala cabang Gloria II Surabaya,

Beliau juga mengajar di STAS Surabaya dan STTIAA Pacet.

2 Comments

  1. DESEMBER BUULOLO said,

    Syalom nama saya Desember BUulolo saya tanya bagaimana pola kepemimpinan Yesus sebagai raja menurut kitab matius? kalau ada yang tahu tolang kirim di Email.saya : semdesemberbuulolo@gmail.com. Gbu

  2. aulia said,

    It is Go0d. Praise the LoRd 4 3vEr!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: